PONTIANAK – Jalan Diponegoro dipenuhi kerlip lampion dan aroma kuliner khas ketika Festival Cap Go Meh 2577 Kongzi digelar, Rabu malam (25/02/2026). Ribuan warga memadati kawasan itu, menyaksikan rangkaian pertunjukan budaya yang berlangsung bersamaan dengan bulan suci Ramadan. Peristiwa ini bukan sekadar hiburan; ia menjadi simbol nyata toleransi antarumat beragama.
Sebanyak 55 stan kuliner dan produk lokal berjajar rapi sepanjang jalan. Dari makanan tradisional Tionghoa, jajanan Melayu, hingga minuman modern, semua ditawarkan dalam satu lorong yang memadukan rasa dan budaya. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, membuka festival secara resmi, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud konkret penghargaan terhadap keberagaman.
“Pontianak adalah kota untuk semua, tempat di mana kreativitas dan budaya bisa berkembang tanpa batas,” ujarnya dalam sambutan pembukaan. Edi menambahkan, atraksi dirancang agar tidak mengganggu aktivitas ibadah Ramadan, dengan arak naga bersinar dimulai pukul 21.00 WIB dan rute dipersingkat untuk memastikan kegiatan selesai sebelum sahur.
Bagi pengunjung seperti Badri (26) dari Desa Sungai Enau, festival ini menjadi pengalaman unik. Ia datang sejak pagi dan merekam seluruh pertunjukan dengan telepon pintarnya. “Ini momen yang luar biasa, bisa melihat naga-naga bersinar dan budaya bersatu di satu tempat,” katanya sambil tersenyum.
Ritual naga bersinar yang menampilkan 49 naga menjadi puncak acara. Gerakan serentak puluhan kelompok seni membutuhkan koordinasi tinggi. Kesalahan kecil bisa merusak harmoni visual, sehingga disiplin dan kerja sama menjadi kunci. Selain nilai estetika, prosesi ini merefleksikan kekuatan komunitas dalam menjaga kerukunan dan persatuan kota.
Festival Cap Go Meh Pontianak bukan hanya tontonan, tetapi juga dorongan ekonomi. UMKM mendapat panggung untuk memasarkan produk, sementara sektor pariwisata mengalami lonjakan pengunjung. Jalan Diponegoro yang biasanya menjadi arteri transportasi berubah menjadi ruang publik interaksi sosial, ekonomi, dan budaya.
Perayaan ini menegaskan bahwa identitas kota Pontianak terbentuk bukan dari simbol semata, melainkan dari praktik nyata keseharian warganya. Festival Cap Go Meh 2026 memperlihatkan bagaimana tradisi, ekonomi, dan toleransi dapat berjalan seiring, menciptakan harmoni yang terasa bagi setiap orang yang hadir. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan