SANA’A – Pulau Socotra di Yaman kembali menjadi perhatian dunia internasional, bukan hanya karena keindahan alamnya yang unik dan eksotis, tetapi juga akibat krisis geopolitik yang berdampak langsung pada sektor pariwisata. Lebih dari 600 wisatawan asing, termasuk tiga warga negara Indonesia (WNI), dilaporkan terjebak di pulau tersebut menyusul meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah membuat akses keluar-masuk Pulau Socotra menjadi terbatas. Sejumlah penerbangan dilaporkan dibatalkan, sementara jalur laut tidak dapat digunakan secara optimal karena faktor keamanan. Akibatnya, ratusan turis yang sebelumnya datang untuk menikmati keindahan alam Socotra kini harus tertahan tanpa kepastian jadwal kepulangan.
Pulau Socotra selama ini dikenal sebagai destinasi wisata alam kelas dunia. Letaknya yang terisolasi di Laut Arab membuat pulau ini memiliki flora dan fauna endemik yang tidak ditemukan di tempat lain. Namun, kondisi geografis yang terpencil itu justru menjadi persoalan serius ketika situasi keamanan regional memburuk.
Salah satu pemandu lokal menyebutkan bahwa para wisatawan awalnya tidak menyangka kondisi politik akan berdampak langsung pada perjalanan mereka.
“Sebagian besar turis datang untuk menikmati alam dan tidak memperkirakan akan tertahan selama berhari-hari tanpa kejelasan,” ujarnya, Sabtu (10/01/2026).
Ketegangan antara Arab Saudi dan UEA turut memengaruhi stabilitas di wilayah Yaman, termasuk Pulau Socotra yang secara administratif berada di bawah pemerintahan Yaman, namun memiliki kepentingan strategis di kawasan. Kondisi ini membuat otoritas setempat memperketat pergerakan orang dan transportasi.
Sumber diplomatik menyebutkan bahwa sejumlah negara telah melakukan koordinasi untuk memastikan keselamatan warganya yang terjebak. Pemerintah Indonesia juga dilaporkan terus memantau keberadaan tiga WNI di Socotra dan melakukan komunikasi intensif dengan pihak terkait.
“Keselamatan warga negara menjadi prioritas. Kami terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan perwakilan asing untuk mencari solusi pemulangan,” kata seorang pejabat diplomatik yang enggan disebutkan namanya.
Para wisatawan saat ini masih berada di penginapan dan fasilitas lokal dengan kondisi logistik yang relatif aman, meski keterbatasan pasokan mulai dirasakan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak lanjutan jika ketegangan regional tidak segera mereda.
Kasus terjebaknya ratusan turis di Pulau Socotra menjadi gambaran nyata bagaimana konflik geopolitik dapat berdampak langsung pada sektor pariwisata dan keselamatan warga sipil. Destinasi yang semula dipromosikan sebagai “surga tersembunyi” kini berubah menjadi wilayah isolasi sementara akibat dinamika politik internasional. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan