Dari Rumah di Muara Jawa, Amplang Queen Raup Jutaan Rupiah per Bulan

KUTAI KARTANEGARA – Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan pelaku usaha kecil pascapandemi Covid-19, sejumlah UMKM lokal berbasis pangan khas daerah tetap menunjukkan ketahanan. Salah satunya Amplang Queen, usaha rumahan yang memproduksi amplang khas Kalimantan dan telah bertahan selama kurang lebih lima tahun sejak dirintis pada masa pandemi.

Usaha tersebut dikelola langsung oleh Agustina di kediamannya di wilayah Handil, Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara. Ia memulai produksi amplang sebagai langkah untuk mempertahankan kondisi ekonomi keluarga di tengah situasi sulit. Hingga kini, Amplang Queen masih aktif berproduksi dan melayani permintaan pasar lokal maupun luar daerah.

Dalam wawancara pada Rabu (25/02/2026), Agustina menjelaskan seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri, mulai dari pengolahan bahan baku, pencetakan, penggorengan, pengemasan, hingga pemasaran.

“Usaha ini sudah berjalan sekitar lima tahun sejak pandemi. Sampai sekarang masih saya kerjakan sendiri,” ujar Agustina.

Dalam satu kali produksi, ia membutuhkan modal sekitar Rp350 ribu. Proses produksi dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam sehari, tergantung ketersediaan bahan baku dan jumlah pesanan yang masuk. Setiap satu kali produksi mampu menghasilkan sekitar 30 pouch amplang ukuran 100 gram.

Dari pola produksi tersebut, Amplang Queen mampu mencatatkan keuntungan bersih sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan. Menurut Agustina, jumlah tersebut dapat meningkat pada momen tertentu ketika permintaan pasar mengalami kenaikan, termasuk pesanan dari luar daerah.

Produk Amplang Queen tersedia dalam dua varian rasa, yakni original dan pedas daun jeruk. Untuk varian original, tersedia pilihan kemasan 100 gram, 250 gram, dan 500 gram. Sementara varian pedas daun jeruk hadir dalam ukuran 65 gram, 100 gram, 250 gram, dan 500 gram. Variasi ukuran tersebut ditujukan untuk menjangkau kebutuhan konsumen yang beragam.

Dari sisi pemasaran, produk ini tidak hanya dipasarkan di wilayah Muara Jawa, tetapi juga telah menjangkau Balikpapan dan Samarinda. Strategi pemasaran dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan media sosial serta promosi dari mulut ke mulut melalui jaringan pertemanan.

“Promosi masih lewat media sosial dan dari teman ke teman,” jelasnya.

Meski mampu bertahan dan berkembang, Agustina mengakui masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan peralatan produksi dan modal usaha. Kondisi tersebut membatasi kapasitas produksi dan peluang ekspansi usaha.

“Kalau alat produksi lebih lengkap dan modal bertambah, produksi tentu bisa ditingkatkan,” ungkap Agustina.

Keberadaan Amplang Queen menjadi contoh nyata daya juang pelaku UMKM lokal dalam mempertahankan usaha di tengah dinamika ekonomi. Dengan dukungan peralatan yang memadai dan akses permodalan yang lebih luas, usaha berbasis pangan khas daerah seperti ini dinilai memiliki potensi untuk tumbuh lebih besar sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di tingkat lokal. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com