SAMARINDA — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menaruh perhatian serius terhadap kualitas pelayanan kesehatan serta arah pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aji Muhammad Salehuddin II (AMS II) Samarinda. Perhatian tersebut terungkap dalam kunjungan lapangan Komisi IV DPRD Kaltim ke rumah sakit yang berlokasi di Jalan Wahid Hasyim I, Samarinda, dalam rangka monitoring pelayanan sekaligus menilai kesiapan peningkatan status rumah sakit.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat berjalan sesuai standar serta untuk melihat secara langsung kesiapan RSUD AMS II jika nantinya akan ditingkatkan menjadi rumah sakit tipe C.
Dalam inspeksi lapangan itu, Komisi IV DPRD Kaltim menemukan sejumlah persoalan mendasar yang dinilai dapat menghambat rencana peningkatan status rumah sakit. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, dr. Andi Satya Adi Saputra, menyampaikan bahwa kondisi RSUD AMS II yang baru beroperasi sekitar satu tahun masih belum memenuhi standar nasional rumah sakit.
Ia mengungkapkan bahwa dari total 50 tempat tidur yang tersedia, hanya 13 tempat tidur yang dapat dioperasionalkan secara optimal oleh tenaga medis. Dengan kondisi tersebut, sebagian besar fasilitas rawat inap belum dapat dimanfaatkan untuk pelayanan pasien. “Kalau berbicara rumah sakit, tidak bisa dilepaskan dari kesiapan infrastruktur. Saat ini, dari 50 tempat tidur, yang bisa dioperasionalkan hanya 13. Ini jelas jauh dari ideal,” kata Andi Satya kepada awak media usai inspeksi lapangan, Rabu (07/01/2026).
Menurutnya, keterbatasan operasional tersebut tidak hanya disebabkan oleh kekurangan tenaga medis, tetapi juga oleh persoalan fisik bangunan. Komisi IV DPRD Kaltim menemukan sejumlah kerusakan pada gedung rumah sakit, mulai dari lantai yang terangkat, ruangan yang tidak layak digunakan, hingga kebocoran dan rembesan air di beberapa titik.
Kondisi tersebut dinilai ironis mengingat RSUD AMS II merupakan fasilitas kesehatan yang relatif baru dibangun dan diharapkan menjadi salah satu penopang layanan kesehatan di Kota Samarinda.
Selain persoalan infrastruktur, DPRD Kaltim juga menyoroti keterbatasan sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga dokter spesialis. Saat ini, RSUD AMS II baru memiliki sekitar 10 dokter spesialis dan belum memiliki dokter spesialis kandungan. Padahal, keberadaan dokter spesialis kandungan merupakan salah satu syarat utama untuk peningkatan status rumah sakit menjadi tipe C. “Untuk rumah sakit tipe C, ada empat spesialis dasar yang wajib tersedia. Salah satunya dokter spesialis kandungan. Jika ini tidak terpenuhi, maka peluang naik ke tipe C akan sangat berat,” ujar politisi Partai Golongan Karya (Golkar) tersebut.
Andi Satya menambahkan, secara keseluruhan kekurangan tenaga kesehatan di RSUD AMS II masih mencapai puluhan orang. Dengan keterbatasan tersebut, manajemen rumah sakit terpaksa membatasi jumlah layanan dan tempat tidur yang dapat dibuka agar tidak membebani tenaga medis yang ada. “Kalau dipaksakan membuka banyak bed, kasihan tenaga kesehatannya. Pelayanan justru tidak akan optimal,” tutur wakil rakyat dari daerah pemilihan Samarinda itu.
Di sisi lain, Komisi IV DPRD Kaltim juga mempertanyakan kebijakan manajemen rumah sakit yang telah menjalin kerja sama operasional dengan pihak ketiga untuk layanan hemodialisis. Menurut DPRD, kebijakan tersebut belum sejalan dengan kondisi pelayanan dasar rumah sakit yang masih belum optimal. “Layanan dasar saja belum maksimal, tapi sudah membuka layanan subspesialistik seperti hemodialisis. Padahal hemodialisis itu bukan layanan dasar,” tegas Andi Satya.
Komisi IV DPRD Kaltim juga mengingatkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur agar tidak terburu-buru membangun gedung baru sebelum fasilitas yang ada dimaksimalkan. Optimalisasi gedung eksisting, baik dari sisi infrastruktur maupun pemenuhan SDM, dinilai sebagai langkah paling rasional dan mendesak untuk dilakukan saat ini demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan