DPRD Soroti Anak Samarinda Terbiasa Ucapkan Kata Kotor

SAMARINDA – Fenomena anak-anak yang kerap melontarkan kata-kata kotor menjadi sorotan serius Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda, Sri Puji Astuti. Ia menilai kebiasaan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan cerminan dari perilaku orang dewasa yang menjadi contoh utama bagi anak-anak di rumah.

“Sebenarnya kenapa anak-anak berkata kotor, anak-anaknya melihat orang yang dewasa biasanya dari rumah,” ujar Sri Puji Astuti saat ditemui di Kantor DPRD Kota Samarinda, Rabu (17/09/2025).

Menurut Sri Puji, upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan ini sebenarnya telah dilakukan, salah satunya melalui lembaga terkait yang mengawasi penyiaran dan perlindungan anak, termasuk keberadaan Komisi Perlindungan Penyiaran Indonesia (KPAI). “Lalu pemerintah dalam hal ini mikir, kita sudah ada Komisi Perlindungan penyiaran KPAI,” ungkapnya.

Meski begitu, ia menilai langkah tersebut belum sepenuhnya efektif. Konten yang tidak sesuai untuk anak-anak masih marak ditayangkan di berbagai media, mulai dari televisi hingga platform digital. “Ternyata nggak berhasil itu karena sinetron, coba lihat tayangan-tayangan di sinetron, di Instagram, TikTok itu yang tidak terfilter dengan baik,” tegasnya.

Sri Puji menekankan bahwa tugas pemerintah bukan hanya menghadirkan lembaga pengawas, tetapi juga memastikan adanya filterisasi yang benar-benar mampu melindungi anak dari konten negatif. Namun, ia mengakui perkembangan teknologi yang begitu cepat menjadi tantangan tersendiri. “Dan tugas pemerintah itu memfilter itu, tapi perkembangan globalisasi, perkembangan digital ini kan juga tidak bisa kita hambat juga,” ujarnya.

Menurutnya, tanggung jawab membentengi anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Peran masyarakat, terutama orang tua, sangat penting dalam mendampingi anak-anak agar bijak menggunakan teknologi.

“Ini yang saya lihat banyak kita sendiri, masyarakat Samarinda atau masyarakat Indonesia itu tidak bijaksana menyikapi perkembangan teknologi yang pesat,” terangnya.

Sri Puji menegaskan, keluarga merupakan pondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Pola asuh yang tepat disertai teladan nyata dari orang tua akan jauh lebih efektif dibandingkan sekadar larangan atau pengawasan. “Itulah tugas dari orang tua, bagaimana kita memberikan dasar-dasar kepada anak-anak kita,” jelasnya.

Ia menambahkan, teladan dari lingkungan sekitar juga tidak kalah penting. Guru, tokoh masyarakat, maupun pemerintah kota harus mampu menghadirkan contoh yang baik agar anak-anak tidak meniru perilaku buruk. “Paling-paling bagus itu adalah memberi contoh, entah itu contoh dari orang dewasa, dari gurunya, dari pemerintah kota,” pungkasnya. []

Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Rasidah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com