Drone Hantam Kedubes AS di Riyadh, Saudi Murka

RIYADH — Ketegangan di kawasan Teluk kembali melonjak setelah Kedutaan Besar Amerika Serikat di ibu kota Arab Saudi menjadi sasaran serangan drone yang dikaitkan dengan Iran. Pemerintah Saudi langsung bereaksi keras dan menyebut insiden tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Melalui pernyataan resmi yang dikutip Qatar News Agency pada Selasa (03/03/2026), Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam keras serangan yang menargetkan fasilitas diplomatik AS di Riyadh. Otoritas Saudi menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap norma dan hukum internasional.

“Kerajaan dengan tegas mengutuk serangan yang menyasar gedung Kedutaan Amerika Serikat di Riyadh. Tindakan ini merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun,” demikian pernyataan resmi pemerintah Saudi.

Pemerintah Saudi juga menegaskan bahwa fasilitas diplomatik memiliki perlindungan khusus berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik. Serangan terhadap kedutaan, bahkan di tengah konflik bersenjata, disebut sebagai pelanggaran terhadap komitmen internasional yang telah disepakati bersama.

Otoritas pertahanan Saudi sebelumnya melaporkan bahwa dua drone menghantam kompleks Kedubes AS. Insiden tersebut memicu kebakaran terbatas dan menyebabkan kerusakan material ringan pada bangunan.

“Berdasarkan informasi awal, dua wahana nirawak menyerang area kedutaan dan memicu kebakaran kecil yang segera berhasil dikendalikan. Tidak ada laporan korban jiwa,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi.

Kerajaan memperingatkan bahwa aksi semacam itu berpotensi memperluas eskalasi konflik di kawasan Teluk yang sudah berada dalam situasi genting. Pemerintah Saudi juga menegaskan memiliki hak penuh untuk mengambil langkah yang dianggap perlu demi menjaga keamanan wilayah, warga negara, serta kepentingan strategisnya.

“Kami berhak melakukan semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional dan fasilitas vital kami,” tegas pernyataan tersebut.

Serangan ini terjadi di tengah memanasnya konflik regional sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada Sabtu (28/02/2026). Serangan tersebut menargetkan fasilitas komando dan kendali militer, termasuk milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal balistik, pangkalan udara, serta sistem pertahanan udara Iran.

Dalam rentetan serangan sebelumnya, sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke berbagai target di kawasan Teluk.

Dengan insiden terbaru di Riyadh, kekhawatiran atas meluasnya konflik di Timur Tengah kian menguat. Situasi yang belum mereda menempatkan kawasan tersebut dalam risiko eskalasi yang lebih besar. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com