Dua Hari, Dua Tragedi: Derek Proyek Jadi Mesin Pembunuh di Thailand

SAMUT SAKHON – Dua tragedi maut akibat robohnya derek proyek konstruksi dalam waktu berdekatan mengguncang Thailand dan memicu sorotan tajam terhadap lemahnya sistem keselamatan kerja di sektor infrastruktur. Dalam kurun dua hari, kecelakaan fatal tersebut merenggut sedikitnya 34 nyawa dan melukai puluhan orang, termasuk penumpang kereta api yang tidak terkait langsung dengan proyek pembangunan.

Insiden terbaru terjadi pada Kamis (15/01/2026) pagi di Jalan Rama 2, Samut Sakhon, ketika sebuah derek baja yang digunakan dalam pembangunan jembatan layang ambruk dan menghantam dua mobil sipil yang melintas. Benturan keras itu menghancurkan kedua kendaraan dan memastikan dua orang di dalamnya tewas di lokasi kejadian. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.15 waktu setempat, dekat Jembatan Sungai Tha Chin, salah satu jalur padat di wilayah tersebut.

Relawan penyelamat dari Yayasan Poh Teck Tung bersama tim medis darurat langsung diterjunkan. Petugas harus menggunakan alat pemotong hidrolik untuk mengevakuasi korban yang terjepit di antara reruntuhan baja dan bodi kendaraan yang ringsek parah. Pemandangan di lokasi menggambarkan betapa masifnya dampak robohnya struktur derek terhadap pengguna jalan yang sama sekali tidak terlibat dalam proyek.

Tragedi ini memperpanjang daftar korban setelah sehari sebelumnya, Rabu (14/01/2026), sebuah derek proyek lain roboh di Nakhon Ratchasima dan menimpa kereta penumpang rute Bangkok–Ubon Ratchathani yang sedang melintas di bawahnya. Insiden tersebut menewaskan 32 orang dan menyebabkan 66 penumpang mengalami luka-luka, sebagian di antaranya dalam kondisi serius.

Pemerintah Thailand menyatakan keprihatinan mendalam atas rangkaian kecelakaan ini. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menilai peristiwa tersebut sebagai alarm keras bagi negara. Ia menegaskan bahwa kejadian serupa yang berulang dalam waktu singkat merupakan situasi yang tidak bisa ditoleransi. Menurutnya, tanggung jawab kontraktor harus diusut secara tegas karena keselamatan publik telah dikorbankan.

Ia juga menyoroti fakta bahwa dua proyek derek yang roboh dikerjakan oleh kontraktor yang sama, yakni Italian-Thai Development Plc (ITD). Pemerintah, kata Anutin, telah menempuh langkah hukum dengan mengajukan proses pidana atas dugaan kelalaian yang menyebabkan korban jiwa.

Lebih jauh, Anutin menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap regulasi konstruksi dan mekanisme pengawasan proyek. Ia menilai aturan yang ada belum cukup kuat untuk mencegah kegagalan fatal di lapangan, terutama pada proyek berskala besar yang beroperasi di ruang publik aktif.

Penyelidikan resmi masih berlangsung untuk memastikan penyebab teknis robohnya derek, termasuk dugaan kesalahan prosedur, kualitas peralatan, serta pengawasan keselamatan kerja. Publik kini menanti apakah tragedi beruntun ini akan benar-benar berujung pada pembenahan sistemik atau kembali berlalu tanpa perubahan berarti. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com