Eropa Tolak Ajakan Trump, Pilih Diplomasi di Selat Hormuz

Uni Eropa menolak permintaan AS untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz dan memilih pendekatan diplomasi guna meredam konflik.

BRUSSELS – Negara-negara Uni Eropa secara kolektif menolak permintaan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, untuk terlibat dalam operasi militer pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan menegaskan prioritas pada diplomasi dan stabilitas kawasan.

Penolakan tersebut mencuat dalam pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) Uni Eropa di Brussels, Belgia, di tengah meningkatnya ketegangan setelah Iran menutup Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Penutupan jalur strategis tersebut merupakan respons Iran atas serangan gabungan AS dan Israel yang berdampak pada terganggunya distribusi energi global.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa negara-negara Eropa tidak memiliki kepentingan untuk terlibat langsung dalam konflik bersenjata tersebut.

“tidak memiliki keinginan untuk secara aktif terlibat dalam aksi militer terhadap Iran”, sebagaimana diberitakan Detikcom, Rabu (18/03/2026).

Ia juga menegaskan bahwa kawasan Eropa tidak ingin terseret dalam konflik berkepanjangan. “Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini,” tegasnya.

Menurut Kallas, Uni Eropa tetap berkomitmen menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, namun melalui pendekatan non-militer. Ia menambahkan bahwa blok tersebut tidak berencana memperluas misi yang sudah berjalan, seperti Operasi Aspides di Laut Merah, ke kawasan Selat Hormuz.

Sikap serupa disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Italia, Antonio Tajani, yang menilai bahwa mandat operasi angkatan laut Uni Eropa saat ini tidak mencakup wilayah Selat Hormuz.

“Kami bersedia memperkuat misi-misi ini. Tetapi saya rasa misi-misi tersebut tidak dapat diperluas hingga mencakup Selat Hormuz,” ucapnya.

Penolakan juga datang dari sejumlah negara Eropa lainnya. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan mengirimkan pasukan ke kawasan Teluk dan mendorong penyelesaian melalui jalur politik.

Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer, turut menolak tekanan AS dengan menyatakan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam konflik yang lebih luas. Sikap serupa juga diambil Polandia dan Belgia yang menekankan pentingnya diplomasi dibandingkan keterlibatan militer.

Menlu Polandia, Radoslaw Sikorski, bahkan mengkritik pendekatan AS dalam mendorong keterlibatan sekutu, sementara Menlu Belgia, Bart De Wever, menegaskan negaranya tidak akan ambil bagian dalam operasi militer bersama AS dan Israel.

Penolakan kolektif ini menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antara AS dan negara-negara Eropa dalam merespons krisis di Selat Hormuz. Di satu sisi, AS mendorong langkah militer untuk menjamin keamanan jalur energi global, sementara Eropa memilih jalur diplomasi guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com