GAZA – Gelombang serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza sejak Sabtu 31 Januari 2026, menewaskan sedikitnya 37 warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya. Rentetan serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang masih berlaku, memunculkan tudingan pelanggaran berulang oleh militer Israel sejak kesepakatan penghentian tembakan diberlakukan pada Oktober lalu.
Badan Pertahanan Sipil di Gaza melaporkan bahwa serangan udara yang berlangsung sejak subuh menyasar kawasan permukiman padat penduduk di berbagai wilayah. “Korban yang tercatat hingga saat ini mencapai puluhan orang, sebagian besar merupakan anak-anak dan perempuan,” ujar otoritas pertahanan sipil Gaza dalam keterangan terbarunya, Minggu (01/02/2026).
Sumber medis di Gaza barat menyebut sebuah apartemen di kawasan Rimal menjadi sasaran serangan, menewaskan lima orang, termasuk tiga anak dan dua perempuan. Serangan lain menghantam tenda pengungsian di wilayah Asdaa, barat laut Khan Younis, Gaza selatan, yang menewaskan satu keluarga besar. “Korban terdiri atas seorang pria dewasa, tiga anaknya, serta tiga cucu yang masih berusia sangat muda,” kata petugas medis Rumah Sakit Nasser.
Di wilayah timur Kota Gaza, saksi mata melaporkan sejumlah warga terluka akibat serangan udara yang menghantam bangunan tempat tinggal di lingkungan al-Tuffah. Serangan juga tercatat terjadi di Jalan al-Jalaa dan kawasan sekitar kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah, meski tidak dilaporkan adanya korban jiwa di lokasi tersebut.
Serangan turut menyasar gedung administrasi kamp Ghaith di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, yang menampung ratusan pengungsi. Pertahanan Sipil Palestina di Khan Younis menyebut kebakaran sempat melanda tenda-tenda pengungsi setelah serangan udara tersebut. “Tim kami berhasil mengendalikan api, tetapi sejumlah tenda hancur dan kerusakan material sangat luas,” ujar perwakilan pertahanan sipil setempat.
Di Kota Gaza, serangan udara Israel menghantam kantor polisi Sheikh Radwan. Kementerian Dalam Negeri Gaza melaporkan adanya korban jiwa dan luka di kalangan personel kepolisian. “Korban mencakup aparat kepolisian dan warga sipil yang berada di lokasi saat serangan terjadi,” demikian pernyataan singkat kementerian tersebut. Sumber medis menyebut sedikitnya 13 orang tewas dalam serangan ini, termasuk empat polisi perempuan.
Operasi pencarian masih berlangsung di sejumlah titik, dengan dugaan masih ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Sementara itu, serangan terpisah juga menghantam sebuah rumah di lingkungan al-Nasr, Gaza barat, menewaskan tiga orang. Di Gaza utara, tembakan Israel dilaporkan menewaskan seorang pria Palestina di wilayah timur Jabalia.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan anggota Hamas dan Jihad Islam Palestina beserta infrastruktur milik kedua kelompok. Namun, data yang dihimpun otoritas Gaza menunjukkan korban sipil terus bertambah sejak gencatan senjata diberlakukan.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat lebih dari 1.400 pelanggaran gencatan senjata telah dilakukan Israel sejak Oktober, dengan total korban tewas mencapai ratusan orang. Selain itu, ribuan truk bantuan kemanusiaan yang disepakati dalam perjanjian disebut belum sepenuhnya diizinkan masuk ke Gaza.
Perang yang berlangsung selama hampir dua tahun itu telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur sipil Gaza dan menewaskan puluhan ribu warga Palestina. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi wilayah tersebut mencapai puluhan miliar dolar Amerika Serikat. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan