Gambar Ilustrasi

Gratis Tapi Ditolak, Pengobatan HIV di Tarakan Tersendat

TARAKAN — Upaya pengendalian HIV di Kota Tarakan masih menghadapi tembok tebal bernama penolakan, stigma, dan pasien yang menghilang tanpa jejak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan mengakui, tidak sedikit pengidap HIV yang sudah terdeteksi justru enggan melanjutkan pengobatan hingga akhirnya terputus dari pendampingan medis.

Sepanjang tahun 2025, Dinkes Tarakan mencatat 103 kasus baru HIV. Namun angka tersebut tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan keberhasilan terapi. Dari total temuan itu, sembilan orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya belum seluruhnya terhubung dengan layanan pengobatan rutin.

Pengelola Program HIV Dinkes Tarakan, Indah Wahyuni, menyebut tantangan terbesar bukan pada ketersediaan obat, melainkan kesiapan pasien untuk memulai dan mempertahankan pengobatan. “Begitu kasus ditemukan, harapannya pengobatan bisa langsung berjalan. Tetapi di lapangan, banyak yang belum siap secara mental dan sosial,” ujarnya, Kamis (29/01/2026).

Dari 94 pengidap HIV yang seharusnya masuk dalam pendampingan lanjutan, baru 72 orang yang tercatat menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara aktif. Sisanya belum memulai pengobatan atau bahkan tidak lagi dapat dilacak keberadaannya. “Kami menghadapi situasi di mana pasien memilih menunda, lalu perlahan menghilang dari sistem,” kata Indah.

Kondisi ini diperparah oleh sulitnya komunikasi. Nomor telepon yang tidak aktif hingga alamat domisili yang tidak lagi sesuai data kependudukan membuat petugas kesehatan kerap kehilangan jejak pasien. “Ada yang mengganti nomor, ada yang sengaja memutus komunikasi. Saat kami datangi alamat KTP, ternyata sudah pindah atau keluar dari Tarakan,” jelasnya.

Meski demikian, Dinkes Tarakan menegaskan tidak menyerah. Upaya pelacakan terus dilakukan melalui pendekatan persuasif, baik lewat kontak berulang maupun kunjungan lapangan. “Kami tidak berhenti hanya karena sekali gagal dihubungi. Selama masih ada data, tetap kami kejar,” tegas Indah.

Selain faktor teknis, stigma sosial masih menjadi momok utama. Miskonsepsi di masyarakat tentang HIV dinilai membuat pengidap enggan membuka status kesehatan mereka dan takut menjalani pengobatan. “Masih banyak yang menganggap HIV menular lewat sentuhan biasa. Pemahaman keliru ini membuat pasien takut dikucilkan,” ungkapnya.

Padahal, menurut Indah, layanan pengobatan HIV di Tarakan tersedia gratis dan dapat diakses hampir di seluruh fasilitas kesehatan. Dengan terapi ARV yang rutin, virus dapat ditekan hingga pengidap tetap bisa hidup produktif dan sehat. “Kalau minum obat secara konsisten, kualitas hidup tetap bisa normal,” katanya.

Ia pun mengingatkan bahwa keberlanjutan layanan gratis menjadi faktor krusial. Jika saat ini saja masih banyak yang enggan berobat meski tanpa biaya, maka risiko putus obat akan semakin besar bila pengobatan suatu hari dibebankan kepada pasien.

“Kalau gratis saja masih ada yang menolak, bisa dibayangkan dampaknya jika harus berbayar,” pungkasnya. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com