Gula Gait “Lek Nie”, Kuliner Jadul Sanga-Sanga yang Tembus Pasar Luar Daerah

KUTAI KARTANEGARA — Di tengah pesatnya perkembangan berbagai jenis makanan modern, kuliner tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu contohnya adalah gula gait, camilan manis khas yang hingga kini masih diproduksi secara rumahan di wilayah Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Di balik keberlanjutan produksi makanan tradisional tersebut, terdapat sosok perempuan tangguh bernama Paini, pemilik usaha gula gait dengan merek “Lek Nie”. Ia telah menjalankan usaha tersebut sejak tahun 2014 dengan modal awal yang sangat sederhana.

Paini mengungkapkan bahwa usaha yang kini menjadi sumber penghidupan keluarganya itu berawal dari percobaan kecil untuk memproduksi gula gait dan menjualnya di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Modal yang digunakan pada awal usaha hanya sekitar Rp1 juta, termasuk untuk membeli peralatan produksi dasar.

“Awalnya saya hanya coba-coba membuat untuk dijual di sekitar sini. Modalnya sekitar satu juta rupiah saja, sudah termasuk alat. Usahanya juga dikerjakan sendiri, dibantu suami dan anak,” ujar Paini saat diwawancara di Sanga-Sanga, Jumat (06/03/2026).

Gula gait merupakan makanan tradisional yang terbuat dari bahan sederhana, yakni gula aren dan gula putih. Meski bahan bakunya mudah ditemukan, proses pembuatannya tidak semudah yang dibayangkan. Menurut Paini, pembuatan gula gait memerlukan ketelatenan dan teknik khusus agar rasa serta teksturnya tetap terjaga.

“Bahannya sebenarnya sangat simpel, cuma gula aren dan gula putih. Tapi proses pembuatannya cukup sulit dan harus sabar, karena kalau salah sedikit bisa gagal,” jelasnya.

Dalam satu hari produksi, Paini mampu menghasilkan sekitar 80 bungkus gula gait, tergantung jumlah pesanan yang diterima. Setiap bungkus memiliki berat sekitar 60 hingga 70 gram dan dijual seharga Rp10.000 dari tangan produsen. Sementara itu, di sejumlah toko oleh-oleh di Samarinda, produk tersebut dapat dijual kembali dengan harga sekitar Rp12.000 per bungkus.

Meski diproduksi secara rumahan, pemasaran gula gait “Lek Nie” sudah menjangkau berbagai daerah. Selain dipasarkan di wilayah Kutai Kartanegara, produk ini juga tersedia di pusat oleh-oleh di Kota Samarinda. Bahkan, distribusinya telah mencapai luar Pulau Kalimantan, seperti Jawa dan Sumatera, serta pernah dikirim hingga ke luar negeri.

Dalam satu bulan, Paini dapat memasok sekitar 200 hingga 300 bungkus gula gait ke toko oleh-oleh. Sementara pesanan dari luar daerah bisa mencapai 400 hingga 500 bungkus per bulan, meskipun jumlah tersebut bersifat fluktuatif.

“Kalau di toko oleh-oleh sekitar 200 sampai 300 bungkus per bulan. Di luar itu ada juga pesanan dari berbagai daerah, totalnya bisa sampai 400 atau 500 bungkus,” katanya.

Dari setiap produksi, Paini memperoleh keuntungan sekitar 40 hingga 50 persen. Namun demikian, ia mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal promosi. Menurutnya, gula gait merupakan makanan tradisional yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

“Kendalanya lebih ke promosi. Ini makanan khas yang bisa dibilang jadul, jadi masih banyak orang yang belum tahu. Promosi juga masih terbatas, baik online maupun offline,” ungkapnya.

Salah satu momen yang biasanya meningkatkan penjualan adalah peringatan Peristiwa Merah Putih Sanga-Sanga yang digelar setiap 27 Januari. Pada peringatan tahun 2025, Paini mengaku mampu meraih omzet hingga Rp15 juta hingga Rp17 juta hanya dalam waktu satu minggu selama kegiatan berlangsung.

Namun kondisi tersebut tidak terulang pada tahun 2026. Ia menyebut terjadi penurunan pendapatan yang cukup signifikan. Pada peringatan tahun ini, total pendapatan yang diperoleh hanya sekitar Rp2,5 juta.

Menurutnya, penurunan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan efisiensi anggaran yang menyebabkan tidak adanya penyediaan stan bagi pelaku usaha oleh dinas terkait selama kegiatan berlangsung.

“Tahun 2025 itu ramai sekali, seminggu bisa sampai 15 sampai 17 juta. Tapi tahun 2026 turun drastis, hanya sekitar dua setengah juta. Karena tahun ini tidak ada stand yang disediakan dinas,” jelas Paini.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Paini tetap optimistis mempertahankan usaha gula gait yang telah dijalankannya selama lebih dari satu dekade. Ia berharap kuliner tradisional khas daerah seperti gula gait dapat semakin dikenal masyarakat luas serta mendapatkan dukungan dalam hal promosi dan pengembangan usaha.

Dengan ketekunan dan kerja keras bersama keluarganya, gula gait “Lek Nie” menjadi bukti bahwa kuliner tradisional masih memiliki peluang besar untuk berkembang, bahkan menembus pasar di berbagai daerah. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com