Gambar Ilustrasi

Heboh Super Flu, Kesehatan Kaltara Buka Fakta Medis

TANJUNG SELOR – Istilah “super flu” yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat Kalimantan Utara, seiring maraknya keluhan demam tinggi dan nyeri tubuh berkepanjangan, akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara. Otoritas kesehatan menegaskan, istilah tersebut bukan diagnosis medis dan berpotensi memicu kesalahpahaman publik.

Kepala Dinkes Kaltara, Usman, menyampaikan bahwa hingga kini dunia medis tidak mengenal penyakit dengan nama super flu. Menurutnya, istilah itu muncul karena sebagian masyarakat mengalami gejala flu yang terasa lebih berat dari biasanya.

“Dalam istilah kedokteran tidak ada yang disebut super flu. Yang terjadi adalah infeksi virus saluran pernapasan, dengan gejala yang pada beberapa kasus bisa cukup berat, seperti demam tinggi hingga 39–40 derajat Celsius, nyeri otot, badan pegal, dan kadang disertai gangguan pernapasan,” kata Usman saat dimintai keterangan, Selasa (06/01/2025).

Ia menjelaskan, mekanisme penularan penyakit tersebut memang serupa dengan Covid-19, yakni melalui droplet atau saluran pernapasan. Namun, dari sisi dampak dan risiko, kondisinya dinilai jauh lebih ringan.

“Penularannya memang cepat karena faktor virus, tetapi tingkat keparahannya rendah. Sampai sekarang, kami tidak mencatat adanya kematian akibat kasus yang disebut masyarakat sebagai super flu,” jelasnya.

Usman mengakui, kasus dengan gejala serupa kemungkinan juga terjadi di Kaltara. Namun, banyak penderita tidak tercatat di fasilitas layanan kesehatan karena memilih melakukan pengobatan mandiri di rumah.

Kondisi tersebut, lanjutnya, diduga dipengaruhi oleh kekhawatiran masyarakat terhadap prosedur isolasi yang identik dengan masa pandemi Covid-19. “Padahal tidak ada kewajiban isolasi khusus. Penanganannya sama seperti flu virus pada umumnya, cukup istirahat, menjaga cairan tubuh, dan pengobatan sesuai gejala,” terangnya.

Terkait upaya pencegahan, Dinkes Kaltara menyebut vaksin flu sebenarnya sudah tersedia sejak lama. Namun, vaksin tersebut bukan bagian dari program nasional dan bersifat pilihan. “Vaksin flu itu ada, tetapi bukan vaksin program pemerintah. Biasanya digunakan untuk keperluan tertentu, seperti persiapan ibadah haji, dan sifatnya mandiri atau berbayar,” ungkap Usman.

Ia juga mengingatkan bahwa infeksi virus pernapasan lebih mudah menyerang saat daya tahan tubuh menurun. Karena itu, masyarakat diminta tidak panik dan tetap bersikap rasional menyikapi istilah yang berkembang di media sosial. “Yang terpenting, jangan salah paham. Jaga imun tubuh, dan bila keluhan terasa berat atau tidak membaik, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com