KUTAI BARAT – Aktivitas operasional Pelabuhan Melak di Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, dilaporkan berhenti sementara hingga 31 Januari 2026. Penghentian tersebut berdampak langsung pada terhentinya layanan angkutan sungai, baik penumpang maupun barang, yang selama ini menjadi salah satu moda transportasi utama bagi masyarakat di wilayah pedalaman Kutai Barat dan sekitarnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Pelabuhan Melak tidak melayani aktivitas bongkar muat maupun keberangkatan kapal. Sejumlah kapal angkutan sungai yang biasanya hilir mudik di dermaga terlihat bersandar tanpa aktivitas. Kondisi ini menunjukkan lumpuhnya pergerakan transportasi air yang selama ini menopang mobilitas warga dan distribusi logistik di daerah tersebut.
Penghentian operasional pelabuhan berdampak pada berbagai pihak. Operator kapal angkutan sungai kehilangan aktivitas usaha, pelaku distribusi logistik mengalami keterlambatan pengiriman barang, sementara masyarakat yang bergantung pada jalur sungai harus mencari alternatif transportasi lain. Jalur darat menjadi pilihan utama, meski memerlukan waktu tempuh lebih lama dan biaya operasional yang lebih besar.
Pelabuhan Melak merupakan salah satu pintu masuk utama jalur sungai dari dan menuju daerah hulu serta wilayah perkotaan di Kalimantan Timur. Peran strategis pelabuhan ini menjadikannya simpul penting dalam rantai distribusi kebutuhan pokok, bahan bangunan, serta mobilitas masyarakat antarkecamatan dan antarkabupaten.
Penghentian operasional pelabuhan dipicu oleh adanya kendala teknis dan operasional pada layanan transportasi sungai. Kendala tersebut menyebabkan kapal tidak dapat beroperasi secara normal, sehingga aktivitas pelabuhan yang bergantung sepenuhnya pada pergerakan kapal ikut terhenti. Dengan tidak beroperasinya kapal angkutan sungai, arus keluar-masuk barang dan penumpang melalui Pelabuhan Melak praktis lumpuh.
Hingga akhir Januari 2026, Pelabuhan Melak masih dalam kondisi tidak aktif dan belum melayani aktivitas transportasi sungai sebagaimana biasanya. Situasi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi stabilitas distribusi logistik, ketersediaan barang kebutuhan pokok, serta aktivitas ekonomi masyarakat Kutai Barat. Masyarakat berharap operasional pelabuhan dapat segera kembali normal agar konektivitas dan roda perekonomian daerah kembali berjalan lancar. []
Penulis: Rifky Irlika Akbar | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan