KETAPANG – Angka temuan kasus HIV di Kabupaten Ketapang kembali menjadi sorotan. Dinas Kesehatan setempat mencatat 114 orang terkonfirmasi positif HIV sepanjang tahun 2025, sebuah angka yang memunculkan kekhawatiran publik terkait tren penularan penyakit tersebut di wilayah itu.
Data tersebut masih bersifat sementara dan tengah menunggu proses validasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui sistem pelaporan nasional. Meski demikian, temuan awal itu menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Khairul Bahri Tambunan, membenarkan adanya lonjakan kasus berdasarkan hasil pemantauan sepanjang tahun lalu. “Ini masih data awal yang kami himpun selama 2025. Jumlahnya ada 114 kasus positif HIV dan saat ini masih dalam proses validasi di tingkat provinsi melalui aplikasi SIHA,” ungkap Khairul saat ditemui, Senin (19/01/2026).
Ia tidak merinci angka pasti perbandingan dengan tahun sebelumnya, namun mengakui tren kasus menunjukkan peningkatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Selain data HIV, Dinkes Ketapang juga memperbarui hasil skrining HIV dan infeksi menular seksual (IMS) yang dilakukan di kawasan hiburan malam Rangge Sentap. Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh Puskesmas Mulia Baru pada Rabu (14/01/2026) terhadap 45 orang.
Hasilnya, tiga orang perempuan dinyatakan reaktif sifilis, meski tidak ditemukan kasus HIV dari kegiatan skrining tersebut. “Dari pemeriksaan itu, ada tiga orang yang hasilnya reaktif sifilis. Semuanya perempuan,” ujar Khairul.
Ia turut menanggapi pemberitaan sebelumnya yang sempat menimbulkan persepsi keliru di masyarakat. “Saya sudah membaca berita yang beredar. Di situ sebenarnya tidak disebutkan adanya HIV, hanya satu orang yang disebut positif sifilis,” katanya.
Menurut Khairul, status reaktif sifilis secara medis sudah menjadi indikasi kuat adanya infeksi dan harus segera ditangani. “Kalau sudah reaktif sifilis, secara klinis itu sudah dianggap positif dan wajib langsung mendapatkan pengobatan,” jelasnya.
Dinas Kesehatan Ketapang memastikan seluruh pasien yang terdeteksi telah mendapatkan penanganan. Pemerintah daerah juga memiliki fasilitas Puskesmas PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan) yang khusus melayani orang dengan HIV/AIDS. “Pasien yang terdeteksi langsung kami intervensi melalui pengobatan, pemantauan rutin, serta pendampingan agar kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan bisa ditekan,” tandas Khairul.
Dinkes Ketapang mengimbau masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan kesehatan serta meningkatkan kesadaran terhadap perilaku hidup bersih dan aman, guna mencegah penularan HIV dan IMS di lingkungan sekitar. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan