Iran Ancam Hantam Aset Korea Selatan Jika Ikut Perang

Rencana Korea Selatan membantu mengamankan Selat Hormuz berpotensi menghadapkan Seoul pada ancaman Iran terhadap aset militer dan kepentingan ekonominya di kawasan.

SEOUL – Rencana Korea Selatan untuk ikut mengamankan pelayaran di Selat Hormuz menghadapi risiko serius setelah Iran memperingatkan bahwa keterlibatan Seoul dalam konflik dapat membuat aset Korea Selatan di kawasan menjadi sasaran. Ancaman itu muncul ketika pemerintah Korea Selatan masih mempertimbangkan bentuk kontribusi yang akan dikirim ke jalur pelayaran strategis tersebut.

Pakar politik Iran Mohammad Marandi mengatakan Teheran akan menganggap Korea Selatan sebagai musuh apabila Seoul bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dalam konflik melawan Iran. Menurut dia, keterlibatan Korea Selatan justru dapat membuka kerentanan baru bagi kepentingan negara tersebut di Timur Tengah.

“Jika Korea Selatan berpartisipasi dalam perang melawan Iran ini, Iran akan menganggapnya sebagai musuh,” kata Marandi saat berbicara di Al Mayadeen, sebagaimana dikutip Middle East Eye, Minggu, (06/09/2026).

Marandi bahkan memperingatkan bahwa sasaran Iran tidak terbatas pada instalasi militer Korea Selatan. Aset milik Seoul yang berada di negara-negara sekitar Teluk Persia, seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain, disebut berpotensi ikut terdampak.

“Teheran akan berupaya menghancurkan aset apa pun yang dimiliki Korea Selatan di wilayah ini,” ujarnya.

“Jadi, Korea sangat rentan terhadap Iran. Iran bisa melukai mereka dengan sangat parah,” lanjut dia.

Peringatan tersebut menjadi persoalan strategis bagi Seoul karena kontribusi di Selat Hormuz tidak hanya berpotensi menghadirkan risiko militer, tetapi juga dapat berdampak terhadap kepentingan ekonomi Korea Selatan di kawasan.

Marandi menilai pengiriman sejumlah kapal Korea Selatan tidak akan banyak mengubah jalannya konflik. Ia bahkan mempertanyakan manfaat kontribusi militer Seoul apabila hanya mengerahkan satu atau dua kapal.

“Apa gunanya satu atau dua kapal dari Korea Selatan? Itu tindakan yang bodoh,” kata dia.

Di sisi lain, Korea Selatan memang memiliki kepentingan besar terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu rute penting bagi pasokan energi ke Negeri Ginseng, dengan sekitar 61 persen impor minyak mentah dan 54 persen impor nafta Korea Selatan bergantung pada pengiriman yang melintasi kawasan tersebut.

Pemerintah Korea Selatan kini masih mempertimbangkan berbagai bentuk kontribusi untuk membantu memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Opsi yang dibahas mencakup keterlibatan militer, baik dalam operasi tempur maupun non-tempur, serta misi pencarian.

Kepresidenan Korea Selatan menegaskan belum ada keputusan mengenai bentuk kontribusi yang akan diberikan. “Harap diperhatikan bahwa belum ada keputusan apa pun mengenai kontribusi aktual,” demikian pernyataan Korsel.

Situasi tersebut menempatkan Seoul pada dilema antara menjaga keamanan jalur pasokan energi dan menghindari keterlibatan langsung dalam konflik yang dapat memperluas risiko terhadap aset serta kepentingan ekonominya di Timur Tengah. Keputusan akhir Korea Selatan akan menentukan sejauh mana negara itu bersedia mengambil risiko untuk mempertahankan kelancaran jalur energi melalui Selat Hormuz. []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com