Iran mengklaim menyerang kapal perang Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz dengan rudal balistik ketika ketegangan kedua negara kembali meningkat.
TEHERAN – Ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat di sekitar Selat Hormuz setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim menyerang kapal perang AS menggunakan rudal balistik. IRGC menyebut serangan tersebut membuat kapal induk dan kapal perusak AS mengalami kerusakan hingga meninggalkan area pertempuran pada Minggu (06/09/2026).
IRGC menyatakan serangan terhadap kapal perang AS merupakan bagian dari rangkaian aksi militer di kawasan Selat Hormuz. Dalam pernyataan resminya, pasukan Iran juga mengklaim Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command/CENTCOM) mengakui dua kapal perang angkatan laut menjadi sasaran.
Klaim tersebut disampaikan IRGC sebagai indikasi keberhasilan operasi militernya, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin (07/09/2026). Namun, dalam laporan tersebut tidak terdapat keterangan independen mengenai tingkat kerusakan kapal maupun kondisi kapal perang AS setelah serangan.
IRGC juga memperingatkan Washington agar menghentikan aksi militer yang berkelanjutan. Iran menyatakan akan memberikan respons yang lebih berat apabila serangan terhadap negaranya terus dilakukan.
Pada Minggu pagi, pasukan Iran juga mengaku menyerang kapal militer AS yang dikendalikan dari jarak jauh dan disebut berupaya memasuki Selat Hormuz. IRGC tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jenis operasi maupun dampak serangan tersebut.
Ketegangan di jalur pelayaran strategis itu sebelumnya telah meningkat setelah IRGC menargetkan tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz serta tiga kapal yang berkaitan dengan AS di lokasi lain. Iran menyebut serangkaian serangan tersebut sebagai respons terhadap aksi Washington yang sebelumnya menyerang kapal tanker milik Teheran.
Konflik terbuka antara Iran dan AS telah berlangsung sejak akhir Februari. Kedua negara sebelumnya sempat mencapai gencatan senjata dan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditujukan untuk mengakhiri perang.
Namun, kesepakatan tersebut kembali menghadapi tekanan setelah Iran menuduh AS melanggar komitmen melalui serangan lanjutan. Teheran kemudian merespons dengan aksi militer sehingga pertempuran kembali berlanjut.
Perkembangan terbaru di sekitar Selat Hormuz memperbesar risiko terhadap keamanan jalur pelayaran dan menunjukkan bahwa kesepakatan penghentian konflik belum mampu meredakan ketegangan militer kedua negara. Situasi kawasan masih bergantung pada langkah berikutnya yang diambil Iran dan AS untuk mencegah konflik berkembang lebih luas. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan