TEHERAN – Pemerintah Iran kembali mengirim pesan tegas ke Washington dengan memamerkan jaringan terowongan rudal bawah laut yang diklaim menyimpan ratusan rudal jelajah jarak jauh. Fasilitas militer tersebut dinilai menjadi kartu strategis Teheran dalam menghadapi kehadiran armada Amerika Serikat di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Rekaman yang disiarkan televisi pemerintah Iran memperlihatkan komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, berada di dalam kompleks persenjataan bawah laut yang luas. Di lokasi itu, tampak deretan rudal siap diluncurkan dari fasilitas yang disebut dirancang khusus untuk menghadapi kapal perang musuh.
Menurut Tangsiri, Angkatan Laut IRGC telah membangun sistem terowongan rudal di bawah laut sebagai bagian dari strategi pertahanan berlapis. “Kami mengembangkan kemampuan ini untuk menghadapi setiap ancaman di perairan regional, khususnya dari kekuatan asing,” ujarnya, seperti dikutip media kawasan Timur Tengah, Minggu (01/02/2026).
Ia menyebut terowongan tersebut menampung ratusan rudal jelajah dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer. Salah satunya adalah rudal Qader 380 L buatan dalam negeri yang dilengkapi sistem pemandu cerdas untuk melacak dan menghantam sasaran bergerak. “Kapabilitas kami tidak stagnan dan akan terus meningkat sesuai kebutuhan medan,” kata Tangsiri.
Pengungkapan fasilitas ini muncul di tengah pernyataan terbuka pejabat militer Iran yang mengancam akan mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz jika terjadi agresi terhadap Teheran. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melintas setiap hari.
Wakil politik Angkatan Laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, menegaskan bahwa Iran menguasai Selat Hormuz secara menyeluruh. “Kami memantau pergerakan di selat ini secara real-time, baik dari udara, permukaan laut, maupun bawah laut,” ujarnya kepada media lokal.
Ia menambahkan bahwa kendali keamanan Selat Hormuz sepenuhnya berada di tangan Teheran. “Iran tidak mencari konflik, tetapi jika perang dipaksakan, responsnya akan jauh lebih keras dibanding sebelumnya,” kata Akbarzadeh, sembari menekankan kesiapan tinggi sistem pertahanan Iran, termasuk pertahanan udara.
Sinyal militer tersebut diperkuat dengan beredarnya rekaman dan simulasi penargetan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln yang dipublikasikan media-media Iran yang dekat dengan IRGC. Publikasi itu disebut sebagai pengingat atas insiden penahanan pelaut AS pada 2016 setelah memasuki perairan Iran.
Di level politik, peringatan serupa disampaikan pejabat senior Iran. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, menilai stabilitas Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari keamanan regional. “Keamanan kawasan ini bersifat kolektif, tidak bisa dinikmati sepihak,” ujarnya kepada kantor berita Fars.
Mokhber menyatakan Iran tetap memilih jalur perdamaian, namun tidak akan ragu mempertahankan kepentingan nasionalnya. “Setiap tindakan ceroboh yang menyasar Iran akan dibalas secara tegas, dan dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga kawasan dan ekonomi global,” katanya.
Ketegangan ini meningkat seiring konfirmasi Amerika Serikat mengenai kehadiran USS Abraham Lincoln beserta kapal pendamping dan tambahan pesawat tempur di kawasan. Presiden AS Donald Trump juga menyebut armada tambahan sedang menuju Timur Tengah, sembari menyatakan harapan tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
Meski Washington menyatakan masih membuka ruang dialog, Iran menegaskan menolak negosiasi di bawah tekanan militer. Teheran menilai pendekatan tersebut justru berisiko memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan paling sensitif bagi perdagangan energi dunia. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan