MADRID – Pemerintah Spanyol akhirnya berhasil menekan Israel agar memulangkan sebagian warganya yang ditahan dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla, armada kapal pembawa bantuan menuju Gaza. Namun di balik kabar pemulangan itu, muncul kritik terhadap cara Israel memperlakukan para aktivis serta lambannya reaksi diplomatik Eropa terhadap tindakan yang dianggap melanggar prinsip kemanusiaan.
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menyampaikan bahwa sebanyak 21 dari 49 warga negara Spanyol yang ditahan akan segera meninggalkan Israel. “Kami telah mencapai kesepakatan dengan Israel bahwa … kelompok pertama yang terdiri dari 21 warga negara Spanyol akan meninggalkan Tel Aviv hari ini dan tiba di Spanyol,” ujar Albares kepada televisi publik Spanyol, dikutip AFP, Minggu (05/10/2025).
Ia menambahkan, “Kami telah mendapatkan persetujuan dari otoritas Israel. Semoga tidak ada yang salah di saat-saat terakhir.” Pernyataan ini mencerminkan nada hati-hati Spanyol, seolah masih ragu apakah Israel benar-benar akan menepati janjinya tanpa insiden baru.
Armada Global Sumud Flotilla yang berlayar sejak bulan lalu membawa pesan solidaritas bagi warga Gaza yang terkepung blokade. Di atas kapal terdapat sejumlah politisi, aktivis, dan figur publik internasional, termasuk aktivis lingkungan asal Swedia Greta Thunberg. Namun idealisme itu berakhir dengan pencegatan oleh Angkatan Laut Israel pada Rabu lalu insiden yang menuai kecaman luas karena dilakukan di perairan internasional.
Seorang pejabat Israel menyebut kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 400 orang itu dicegah masuk ke wilayah Palestina “demi keamanan nasional.” Namun, alasan tersebut dinilai banyak pihak hanya menjadi dalih untuk menekan gerakan solidaritas global terhadap Gaza.
Para penumpang kemudian dibawa ke pantai dan ditahan. Sebagian telah dideportasi, termasuk warga negara Italia dan Turki. Para aktivis mengaku diperlakukan “tidak manusiawi” selama proses penahanan, bahkan ada yang menyebut perlakuan aparat Israel “seperti terhadap binatang.”
Meski Spanyol berhasil memulangkan sebagian warganya, belum ada jaminan bagi 28 warga Spanyol lainnya yang masih berada di tahanan. Pemerintah Spanyol juga dinilai terlalu berhati-hati dan tidak cukup tegas menentang penahanan yang dianggap ilegal itu.
Peristiwa ini kembali menyoroti ketimpangan sikap negara-negara Eropa terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Israel, terutama ketika yang menjadi korban bukan hanya warga Palestina, tetapi juga warga Eropa sendiri yang menunjukkan solidaritas terhadap Gaza. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan