Israel Pasang Garis Merah, Iran Diancam Konsekuensi Berat

YERUSALEM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali mengirim sinyal keras kepada Iran. Ia menegaskan Tel Aviv tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi Teheran untuk membangkitkan kembali program rudal balistik maupun nuklir, yang diklaim telah mengalami kerusakan signifikan akibat konflik bersenjata tahun lalu.

Pernyataan tegas itu disampaikan Netanyahu di hadapan parlemen Israel, Senin (05/01/2026), atau hanya berselang beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman serupa terhadap Iran.

Menurut Netanyahu, Israel siap mengambil langkah ekstrem bila merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan militer Iran.

“Israel tidak akan membiarkan Iran membangun ulang kemampuan rudal balistiknya. Program nuklir yang telah kami lumpuhkan juga tidak akan kami izinkan hidup kembali,” ujar Netanyahu dalam pidatonya, seperti dikutip AFP, Selasa (06/01/2026).

Ia menegaskan, setiap serangan terhadap Israel akan dibalas dengan konsekuensi besar bagi Iran. “Jika kami diserang, dampaknya bagi pihak penyerang akan sangat berat,” katanya, menegaskan sikap garis keras pemerintahannya.

Pernyataan tersebut mempertegas sikap poros Israel–Amerika Serikat, menyusul ancaman Trump yang sebelumnya menyebut akan menghancurkan sisa kekuatan nuklir dan rudal balistik Iran bila Teheran kembali mempercepat pengembangannya.

Ancaman Trump disampaikan tak lama setelah pertemuannya dengan Netanyahu di Washington DC, pekan lalu. Dalam pernyataannya, Trump menuding Iran tengah mempertimbangkan lokasi baru untuk fasilitas nuklir, menggantikan situs lama yang rusak akibat serangan gabungan AS dan Israel dalam perang Juni 2025 yang berlangsung selama 12 hari.

“Iran tampaknya sedang berusaha memulihkan kekuatan militernya. Jika mereka mencoba membangun kembali, kami tidak akan ragu untuk menghentikannya secara total,” kata Trump dalam pernyataan terpisah.

Trump bahkan memperingatkan bahwa respons Washington bisa lebih keras dibandingkan operasi militer sebelumnya.

Meski demikian, Trump juga membuka kemungkinan jalur diplomasi. Ia menyebut masih ada peluang Iran tertarik mencapai kesepakatan baru dengan AS terkait program nuklir dan rudalnya. Tuduhan itu berulang kali dibantah oleh Teheran, yang bersikeras tidak memiliki ambisi mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Netanyahu turut menyinggung kondisi domestik Iran. Ia menyebut gelombang demonstrasi yang dipicu tekanan ekonomi di negara tersebut terus meluas.

Menurut Netanyahu, Israel secara moral mendukung rakyat Iran yang menuntut perubahan. “Israel berdiri bersama rakyat Iran yang memperjuangkan kebebasan, keadilan, dan masa depan yang lebih baik,” ucapnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ketegangan Israel–Iran tak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah ke ranah politik dan psikologis, di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih rapuh pascaperang. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com