MAHAKAM ULU – Terhentinya pelayaran angkutan sungai menuju Kutai Barat dan Mahakam Ulu (Mahulu) selama hampir dua pekan terakhir mulai berdampak pada distribusi barang kebutuhan pokok di wilayah hulu Sungai Mahakam. Di Ujoh Bilang, Mahulu, masyarakat mulai merasakan keterbatasan ketersediaan air mineral, meskipun harga sejumlah bahan pangan utama masih relatif stabil.
Seorang pedagang di Ujoh Bilang, Eka (nama samaran), mengatakan gangguan distribusi terjadi karena kapal angkutan orang dan barang tidak dapat beroperasi akibat kekosongan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan barang dari Samarinda menuju wilayah hulu Mahakam tersendat.
“kapal tidak beroperasi. Akibatnya, barang-barang yang biasanya rutin masuk sekarang terlambat, bahkan belum ada kepastian pengiriman,” ujar Eka saat ditemui di Ujoh Bilang, Sabtu (07/02/2026).
Eka mengungkapkan, hingga kini sebagian besar pemasok belum memberikan kepastian jadwal pengiriman. Informasi terakhir yang diterimanya menyebutkan salah satu kapal penumpang dan barang dijadwalkan kembali berlayar pada Selasa pekan depan.
“Kalau kapal sudah berangkat dari Samarinda, biasanya dua hari perjalanan baru sampai ke Ujoh Bilang. Tapi sampai sekarang kami masih menunggu kepastian,” katanya.
Keterlambatan pengiriman tersebut berdampak langsung pada ketersediaan barang di tingkat pedagang eceran. Menurut Eka, komoditas yang paling terdampak adalah air mineral. Pasokan air mineral, baik kemasan besar maupun kecil, mulai menipis karena hanya sedikit barang yang sempat masuk sebelum kapal berhenti beroperasi. “Air mineral yang datang hanya sedikit. Itu pun cepat habis. Biasanya mudah dicari, sekarang susah,” ujarnya.
Terbatasnya pasokan juga memicu kenaikan harga air mineral kemasan besar. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp90.000 per dus, kini harga berada di kisaran Rp100.000 per dus. “Kenaikan ini bukan untuk ambil untung besar, tapi karena memang stoknya terbatas,” jelas Eka.
Sementara itu, harga gula pasir di Ujoh Bilang masih relatif stabil meskipun pasokannya terbatas. Stok yang tersedia hanya beberapa karung dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Gula masih kami jual normal, sekitar Rp22.000 per kilogram. Kenaikannya tidak signifikan,” katanya.
Ia menilai kenaikan harga gula masih dalam batas wajar dan belum memberatkan warga. Untuk komoditas minyak goreng, ketersediaan masih tergolong aman karena stok berasal dari pengiriman sebelum kapal berhenti beroperasi. “Minyak goreng masih ada, belum berdampak. Kami sempat belanja sebelum kapal berhenti,” ujarnya.
Meski demikian, Eka mengingatkan bahwa apabila gangguan pelayaran berlangsung lebih lama, bukan tidak mungkin komoditas lain turut mengalami kelangkaan. Ia berharap operasional kapal angkutan sungai dapat segera kembali normal agar distribusi barang kebutuhan pokok ke Mahakam Ulu, khususnya Ujoh Bilang, tidak semakin terganggu.
“Kalau kapal sudah jalan lagi, mudah-mudahan kondisi kembali normal. Sekarang kami bertahan dengan stok yang ada,” pungkasnya. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan