Kabut asap karhutla membatasi jarak pandang di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru hingga menyebabkan empat penerbangan mengalami keterlambatan dan satu penerbangan tidak dapat melakukan pendaratan.
BANJARBARU – Terbatasnya jarak pandang akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional Bandara Syamsudin Noor di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), Sabtu (29/08/2026). Lima penerbangan terdampak, terdiri atas empat penerbangan yang mengalami keterlambatan atau delay dan satu penerbangan yang tidak dapat melakukan pendaratan.
Kabut asap dilaporkan menyelimuti landasan pacu (runway) sejak pagi hingga menjelang siang. Kondisi tersebut membuat aktivitas lepas landas dan pendaratan pesawat terganggu karena jarak pandang tidak memenuhi kebutuhan operasional penerbangan.
General Manager (GM) Bandara Syamsudin Noor Stephanus Millyas Wardana mengatakan, lima penerbangan terdampak kondisi tersebut, sebagaimana diberitakan Kompas, Sabtu, (29/08/2026).
“Dapat kami sampaikan bahwa pada Sabtu terdapat lima penerbangan terdampak kabut asap,” ujar Milyas kepada wartawan, Sabtu.
Menurut Milyas, empat penerbangan mengalami delay di Bandara Syamsudin Noor, sedangkan satu penerbangan lainnya tidak dapat melakukan pendaratan akibat jarak pandang yang sangat terbatas.
“Jarak pandang atau visibility di run way yang sangar terbatas tidak memungkinkan untuk dilakukan take of dan landing,” jelas Milyas.
Hingga menjelang siang, kondisi penerbangan mulai berangsur membaik. Dua penerbangan telah berhasil lepas landas, sementara satu penerbangan lainnya telah mendarat secara normal.
Namun, kabut asap yang belum sepenuhnya hilang dari kawasan landasan membuat dua penerbangan lainnya masih harus menunggu hingga jarak pandang memungkinkan pesawat beroperasi dengan aman.
“Untuk penerbangan lain yang terdampak saat ini masih menunggu kondisi jarak pandang membaik,” pungkas Milyas.
Gangguan penerbangan tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat melalui penurunan kualitas udara dan terganggunya aktivitas sehari-hari, tetapi juga merambah sektor transportasi udara. Normalisasi operasional Bandara Syamsudin Noor bergantung pada membaiknya jarak pandang di sekitar landasan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan