Karhutla yang meluas di Pulang Pisau dan mendekati perkantoran serta permukiman memaksa pengalihan arus Banjarmasin–Palangka Raya di tengah lonjakan titik panas di Kalteng.
PULANG PISAU – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang meluas di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng), mulai mengganggu jalur transportasi antardaerah. Kobaran api yang mendekati kawasan perkantoran pemerintah dan permukiman membuat arus lalu lintas Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), menuju Palangka Raya, Kalteng, dan sebaliknya dialihkan, Jumat (11/09/2026) sore hingga malam.
Pengalihan dilakukan karena api terlihat jelas dari ruas Trans Kalimantan, sementara kabut asap pekat mengurangi jarak pandang pengendara. Situasi tersebut dinilai berisiko bagi kendaraan yang tetap melintas di kawasan terdampak.
Sebagaimana diberitakan Wartabanjar, Sabtu, (12/09/2026), kendaraan dari Palangka Raya yang hendak menuju Kapuas dan Banjarmasin dialihkan melalui jalur alternatif Bereng.
Camat Kahayan Hilir Endra Setiawan mengatakan rekayasa lalu lintas juga diberlakukan bagi kendaraan dari arah sebaliknya.
“Untuk arah sebaliknya, juga dialihkan melalui jalur yang telah disiapkan apparat kepolisian,” ujarnya.
Upaya pemadaman dan pengendalian Karhutla terus dilakukan tim gabungan yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Namun, kondisi lahan yang kering akibat musim kemarau membuat kebakaran berpotensi kembali muncul setelah proses pemadaman. Petugas juga terus memantau titik-titik rawan karena api mulai mendekati kawasan permukiman.
“Kami juga terus memantau titik-titik yang berpotensi kembali terbakar setelah proses pemadaman. Masyarakat juga telah imbau untuk waspada karena api mulai mendekati permukiman,” ujar Endra Setiawan.
Ancaman Karhutla di Kalteng juga terlihat dari peningkatan jumlah titik panas (hotspot). Kepala Dinas (Kadis) Kehutanan Kalteng Agustan Saining mengatakan data Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan periode 2-10 September 2026 menunjukkan jumlah hotspot kembali meningkat tajam.
“Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan sehari sebelumnya yang hanya 950 titik,” ujarnya, Jumat (11/09/2026).
Menurut data tersebut, jumlah hotspot mencapai 2.340 titik pada 10 September 2026. Peningkatan itu terjadi ketika Kalteng masih berada dalam status tanggap darurat Karhutla.
“Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng mencatat hingga kini telah terjadi 2.819 kejadian karhutla. Luas lahan yang terbakar mencapai 9.228,04 hektare,” lanjut Agustan.
Pulang Pisau menjadi salah satu daerah dengan jumlah hotspot tinggi. Pada 9 September 2026 tercatat 560 titik, disusul Kota Palangka Raya sebanyak 398 titik dan Kabupaten Kotawaringin Timur 281 titik. Selanjutnya, Kabupaten Kapuas mencatat 247 titik, Seruyan 228 titik, Katingan 218 titik, Barito Selatan 36 titik, dan Gunung Mas 34 titik.
Pergerakan jumlah hotspot di Kalteng dalam beberapa hari terakhir juga sangat fluktuatif. Pada 2 September 2026 tercatat 4.861 titik, kemudian turun menjadi 3.552 titik sehari berikutnya. Jumlah itu kembali meningkat menjadi 4.436 titik pada 4 September dan 5.357 titik pada 5 September 2026.
Pada 6 September 2026, jumlahnya kembali naik menjadi 5.746 titik, sebelum turun tajam menjadi 1.824 titik pada 7 September dan 950 titik pada 8 September. Jumlah hotspot kemudian kembali melonjak hingga 2.340 titik pada periode 9-10 September 2026.
Meluasnya Karhutla yang telah berdampak pada jalur Trans Kalimantan menunjukkan kebakaran tidak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga keselamatan masyarakat dan kelancaran mobilitas antardaerah. Penanganan terpadu dan kewaspadaan masyarakat menjadi penting selama kondisi kemarau dan potensi kebakaran masih tinggi. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan