SAMARINDA – Sejumlah mitra ojek online (ojol) di Samarinda mengungkapkan keluhan terkait Tunjangan Hari Raya (THR) atau Bonus Hari Raya (BHR) yang mereka terima menjelang Lebaran. Meskipun sebagian besar pengemudi menerima BHR sesuai dengan tingkat keaktifan mereka, ada beberapa yang merasa tidak puas dengan nominal yang diterima.
Salah satunya adalah Anshari, seorang pengemudi ojol berusia 30 tahun yang mengatakan bahwa ia menerima BHR sebesar Rp 900.000. Menurutnya, hal tersebut didapatkan karena ia bekerja setiap hari tanpa henti. “Saya dapat Rp 900.000 karena memang kerja setiap hari. Rata-rata yang hanya dapat Rp 50.000 itu jam aktifnya kurang. THR ini dibagikan secara rata berdasarkan kategori dan dihitung sejak seminggu sebelum Lebaran,” ujar Anshari, saat ditemui di Samarinda pada Rabu (26/03/2025).
BHR bagi mitra ojol di Samarinda dibagi dalam lima kategori, yakni Mitra Utama, Mitra Juara, Mitra Unggulan, Mitra Andalan, dan Mitra Harapan. Mitra Utama merupakan kategori tertinggi dengan syarat minimal 25 hari kerja per bulan, 200 jam online, dan tingkat penyelesaian order minimal 90 persen selama periode Maret 2024 hingga Februari 2025. Mitra Utama berhak menerima BHR sebesar Rp 900.000. Sementara itu, kategori lainnya menerima nominal yang lebih kecil, yakni:
- Mitra Juara: Rp 450.000
- Mitra Unggulan: Rp 200.000
- Mitra Andalan: Rp 100.000
- Mitra Harapan: Rp 50.000
Namun, tidak semua mitra merasa puas dengan jumlah yang mereka terima. Salah satunya adalah April (25), yang mengaku hanya menerima Rp 50.000. April mengungkapkan bahwa ia sempat tidak aktif bekerja beberapa bulan terakhir dan baru kembali aktif saat Ramadan.
“Saya memang beberapa bulan terakhir sempat tidak aktif. Baru pas Ramadan ini mulai sering narik lagi,” katanya.
Anshari menambahkan, mitra yang merasa jam aktifnya tinggi namun hanya menerima Rp 50.000 kemungkinan memiliki riwayat pembatalan pesanan atau hanya aktif pada waktu tertentu.
“Kadang ada yang bilang aktif tapi cuma dapat Rp 50.000, bisa jadi sering cancel order atau hanya konsisten di bulan puasa saja,” jelasnya.
Keluhan tentang BHR ini juga mencuat di media sosial, di mana beberapa pengemudi mengungkapkan kekecewaan mereka karena merasa sudah bekerja keras, namun hanya menerima tunjangan yang sangat minim. Meskipun demikian, sistem penghitungan BHR yang sudah diterapkan oleh aplikator dinilai adil oleh sebagian besar mitra yang memang aktif sepanjang tahun.
Redaksi03