JAKARTA – Pemerintah menaruh perhatian khusus pada faktor manusia dalam keselamatan perjalanan mudik Lebaran 2026. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengambil langkah preventif dengan menurunkan tim khusus untuk memeriksa kondisi kesehatan serta potensi kelelahan para pengemudi bus dan mobil travel yang melayani perjalanan jarak jauh.
Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh Tim Penguji Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ditempatkan di enam kota yang menjadi titik penting arus mudik, yakni Jakarta, Bekasi, Bandung, Surabaya, Medan, dan Samarinda. Kegiatan ini dilakukan di terminal, pool bus, hingga perusahaan yang menyelenggarakan program mudik bersama.
Upaya ini dilakukan karena tingginya mobilitas masyarakat saat Lebaran membuat para pengemudi harus bekerja dalam durasi panjang. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan yang dapat memengaruhi konsentrasi saat mengemudi.
Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Kemnaker, Ismail Pakaya, menilai pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan sopir berada dalam kondisi yang layak sebelum menjalankan tugas mengantar penumpang ke berbagai daerah.
Ia menjelaskan bahwa faktor kesalahan manusia masih menjadi salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas, terutama ketika pengemudi dipaksa bekerja terlalu lama tanpa waktu istirahat yang cukup.
Menurut Ismail, pemeriksaan yang dilakukan tim K3 tidak hanya sebatas pengecekan kesehatan dasar. Petugas juga memantau pola kerja pengemudi, durasi mengemudi, hingga waktu istirahat yang mereka peroleh sebelum menjalankan perjalanan.
Selain itu, berbagai faktor yang berpotensi memicu kelelahan juga dianalisis untuk mengurangi risiko kecelakaan di jalan raya selama periode mudik.
“Pemeriksaan ini bertujuan memastikan pengemudi benar-benar dalam kondisi prima. Kelelahan akibat perjalanan panjang dan jam kerja yang tinggi dapat menurunkan konsentrasi sehingga meningkatkan risiko kecelakaan,” jelas Ismail dalam keterangan resmi yang diterima, Jumat (13/03/2026).
Tidak hanya melakukan pemeriksaan, Kemnaker juga memberikan edukasi kepada pengemudi serta operator transportasi terkait pentingnya pengelolaan kelelahan kerja. Para pengemudi diingatkan bahwa tubuh memiliki batas kemampuan dalam menjaga fokus, terutama ketika harus mengemudi berjam-jam di tengah kepadatan lalu lintas mudik.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di sektor transportasi darat. Pemerintah ingin memastikan bahwa sistem keselamatan tidak hanya bergantung pada kondisi kendaraan atau infrastruktur jalan, tetapi juga pada kesiapan fisik dan mental pengemudi.
Ismail menegaskan, keselamatan pemudik sangat dipengaruhi oleh kondisi pengemudi. Sopir yang sehat, cukup istirahat, dan memiliki kewaspadaan tinggi akan sangat menentukan apakah perjalanan penumpang dapat berlangsung aman hingga sampai ke tujuan.
Program pengawasan ini juga merupakan hasil kerja sama antara Kemnaker, Kementerian Perhubungan, serta pemerintah daerah di berbagai wilayah. Melalui koordinasi tersebut, pemerintah berharap kesadaran para pengemudi dan perusahaan transportasi terhadap pentingnya manajemen kelelahan kerja semakin meningkat.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap potensi kecelakaan selama arus mudik dapat ditekan sehingga masyarakat dapat melakukan perjalanan Lebaran dengan lebih aman dan nyaman. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan