Kenakalan Remaja Jadi Sorotan Pasca Pencurian di Berau

BERAU – Kasus dugaan pencurian tembaga yang melibatkan sejumlah pelajar SMP di Jalan Bujangga, Kecamatan Tanjung Redeb, Selasa 24 Februari 2026 memantik keprihatinan sekaligus evaluasi serius dari berbagai pihak. Peristiwa yang terjadi sesaat setelah waktu magrib itu bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan cerminan persoalan sosial yang lebih kompleks.

Sejumlah warga sempat dibuat resah setelah mengetahui bagian belakang rumah korban menjadi sasaran pencurian. Aparat kepolisian kini telah menangani perkara tersebut dan melakukan proses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, menilai keterlibatan anak usia sekolah dalam tindak pidana merupakan tanda bahwa ada celah dalam sistem pengawasan dan pembinaan. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dipandang secara sempit.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa ada yang perlu kita benahi bersama. Anak-anak yang masih berstatus pelajar seharusnya berada di ruang belajar dan pembinaan, bukan justru berhadapan dengan proses hukum,” ujarnya, Rabu (25/02/2026).

Menurutnya, pendekatan menyalahkan anak semata tidak akan menyelesaikan masalah. Ia menekankan pentingnya melihat faktor lingkungan dan keluarga secara lebih jernih.

“Kita tidak bisa hanya menunjuk anak sebagai pihak yang bersalah. Lingkungan pergaulan, pengawasan orang tua, hingga aktivitas di luar jam sekolah perlu menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Subroto juga mendorong sekolah agar memperkuat pendidikan karakter, tidak hanya mengejar capaian akademik. Ia berpandangan bahwa pendidikan moral dan pengawasan sosial harus berjalan beriringan.

“Sekolah perlu menghadirkan pembinaan karakter yang lebih konkret. Jangan sampai pendidikan hanya fokus pada nilai, sementara pembentukan sikap dan tanggung jawab terabaikan,” katanya.

Lebih lanjut, ia meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait agar menyediakan lebih banyak ruang kegiatan positif bagi remaja. Menurutnya, energi dan kreativitas anak muda harus diarahkan pada aktivitas yang membangun.

“Pendekatan terhadap anak di bawah umur harus lebih edukatif daripada represif. Pembinaan yang tepat akan jauh lebih efektif mencegah pengulangan,” imbuhnya.

Ia berharap kasus ini menjadi momentum introspeksi kolektif bagi orang tua, sekolah, dan pemerintah daerah di Kabupaten Berau.

“Anak-anak adalah investasi masa depan daerah. Jika kita lengah dalam membimbing mereka hari ini, dampaknya akan kita rasakan di masa mendatang,” pungkasnya.

Peristiwa ini pun menjadi pengingat bahwa persoalan kenakalan remaja tidak dapat ditangani secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks. []

Redaksi4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com