Kendala Modal dan Promosi Masih Membayangi UMKM di Kukar

KUTAI KARTANEGARA — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan usaha. Dua persoalan utama yang kerap muncul adalah keterbatasan permodalan serta kurang optimalnya promosi produk di pasar yang lebih luas.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Kukar, Rahmat Darmawan, saat diwawancarai di Tenggarong pada Kamis (05/03/2026). Menurutnya, persoalan modal dan promosi masih menjadi hambatan yang paling banyak dirasakan oleh para pelaku UMKM di berbagai wilayah di Kukar.

“Kalau kita lihat di lapangan, kebanyakan kendala UMKM di Kukar itu ada pada modal dan promosi. Dua hal ini sangat menentukan keberlanjutan usaha mereka,” ujarnya.

Rahmat menjelaskan bahwa keterbatasan modal sering kali membuat pelaku UMKM kesulitan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas usaha, maupun melakukan inovasi terhadap produk yang dihasilkan. Kondisi tersebut secara tidak langsung berdampak pada kemampuan pelaku usaha dalam bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah menghadirkan program Kredit Kukar Idaman (KKI). Program ini merupakan fasilitas pembiayaan dengan bunga 0 persen serta tanpa agunan yang ditujukan bagi pelaku UMKM, petani, nelayan, dan pembudidaya di wilayah Kukar.

Program tersebut dijalankan bekerja sama dengan Bankaltimtara sebagai lembaga penyalur pembiayaan. Melalui program tersebut, pelaku usaha dapat mengajukan pinjaman modal mulai dari Rp5 juta hingga Rp50 juta guna mengembangkan usaha yang dijalankan.

Meskipun demikian, Rahmat mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah kendala administratif yang dihadapi masyarakat ketika ingin mengakses program tersebut. Salah satu persoalan yang sering muncul adalah status pemilik usaha yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Kadang yang menjadi persoalan itu kalau pemilik UMKM statusnya ASN. Dalam aturan program kredit tersebut, ASN tidak bisa mengajukan pinjaman secara langsung,” jelasnya.

Meski demikian, menurut Rahmat, masih terdapat solusi bagi pelaku usaha yang menghadapi kendala tersebut. Salah satunya adalah dengan mengajukan pinjaman secara berkelompok atau melalui anggota keluarga yang tidak berstatus ASN.

“Kalau ingin mengajukan pinjaman secara kelompok UMKM masih bisa, tapi yang mengajukan harus yang bukan ASN. Kalau pengajuan perorangan juga bisa selama salah satu dari suami atau istri bukan ASN. Tetapi jika keduanya ASN, maka tidak dapat mengakses program itu,” tambahnya.

Selain permodalan, Rahmat juga menyoroti pentingnya strategi promosi yang tepat dalam mengembangkan usaha di era digital. Menurutnya, kemajuan teknologi sebenarnya memberikan peluang yang sangat besar bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produk mereka ke pasar yang lebih luas.

Berbagai platform digital seperti media sosial maupun marketplace dinilai dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan produk kepada konsumen. Namun demikian, ia menegaskan bahwa promosi tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak diimbangi dengan kualitas produk yang baik.

“Di era digital sebenarnya promosi sudah sangat mudah, apalagi dengan media sosial. Tapi kalau hanya mengandalkan promosi tanpa memperbaiki kualitas produk, tentu konsumen tidak akan bertahan lama,” katanya.

Rahmat juga mengingatkan pentingnya membangun kemandirian bagi para pelaku UMKM dalam menjalankan usaha. Ia menilai bahwa bantuan pemerintah seharusnya dipandang sebagai stimulus atau dorongan awal bagi pengembangan usaha.

“Kalau pelaku UMKM selalu mengandalkan bantuan pemerintah, itu bisa dibilang usahanya belum naik kelas. Saat ini masih banyak yang menunggu bantuan daripada berusaha mengembangkan usahanya sendiri,” ujarnya.

Ia berharap para pelaku UMKM di Kukar dapat lebih proaktif dalam meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan berbagai program yang telah disediakan pemerintah secara optimal.

“Bantuan pemerintah itu seharusnya menjadi stimulus saja. Yang paling penting adalah semangat pelaku UMKM untuk terus berkembang dan mandiri,” tutup Rahmat.

Menurutnya, dengan kombinasi antara dukungan pemerintah, inovasi produk, serta pemanfaatan teknologi digital, pelaku UMKM di Kutai Kartanegara memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian daerah.

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com