KUTAI BARAT – Keterbatasan peralatan kebencanaan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Barat. Kondisi ini dinilai berisiko, terutama saat menghadapi ancaman banjir dan keadaan darurat lain di awal musim hujan 2026.
BPBD Kutai Barat secara terbuka mengakui, luas wilayah dan medan geografis yang sulit dijangkau membuat distribusi serta ketersediaan alat kebencanaan belum ideal. Akibatnya, respons cepat dalam situasi darurat tidak selalu dapat dilakukan secara merata hingga ke tingkat kampung.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kutai Barat, Bambang Pramudito, menyebut keterbatasan sarana masih menjadi kendala utama dalam penanganan bencana di daerah pedalaman.
“Perlengkapan kebencanaan yang tersedia saat ini belum sepenuhnya mencukupi, baik untuk banjir, kebakaran, maupun evakuasi darurat. Karena itu, peran kesiapsiagaan warga menjadi sangat krusial,” ujarnya, Selasa (13/01/2026).
Menurut Bambang, dengan kondisi wilayah Kutai Barat yang luas dan tersebar, BPBD tidak bisa bekerja sendiri. Penanganan awal bencana masih sangat bergantung pada kombinasi peralatan yang ada di kabupaten, kecamatan, serta dukungan relawan dan masyarakat setempat.
Ia menegaskan, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana perlu dibekali pengetahuan dasar kebencanaan dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.
“Warga harus memahami langkah penyelamatan diri, evakuasi mandiri, dan segera melaporkan jika terjadi kondisi darurat. Tidak semua lokasi bisa langsung dijangkau petugas,” katanya.
Di sisi lain, BPBD Kutai Barat mengaku terus berupaya memperkuat kapasitas daerah melalui pengusulan penambahan dan pembaruan alat kebencanaan kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi. Selain sarana, peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat lokal juga menjadi fokus.
BPBD berharap, kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat dapat menjadi benteng utama dalam mengurangi risiko serta dampak bencana di Kutai Barat, meski dengan keterbatasan fasilitas yang ada saat ini. “Dengan kesiapan bersama, penanganan di lapangan bisa lebih cepat dan dampak bencana dapat ditekan,” pungkas Bambang. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan