Pelaku UMKM sempol ayam di Tenggarong tetap bertahan dengan omzet stabil meski menghadapi fluktuasi harga bahan baku.
KUTAI KARTANEGARA (Kukar) – Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kuliner di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menunjukkan daya tahan di tengah dinamika ekonomi, salah satunya melalui usaha sempol ayam yang dikelola Sukardi sejak 2016 dengan omzet yang relatif stabil, termasuk saat libur Lebaran 1447 Hijriah.
Sukardi merupakan pelaku UMKM yang memulai usaha secara mandiri tanpa latar belakang kuliner formal. Ia mengandalkan pembelajaran otodidak melalui platform digital untuk mengembangkan usahanya.
“Belajar sendiri dari YouTube. Awalnya saya lihat peluang usaha, karena jajanan seperti ini banyak peminatnya,” ujar Sukardi, saat ditemui, Rabu (25/03/2026).
Dalam perjalanan usahanya, Sukardi sempat berpindah lokasi untuk mencari titik berjualan yang strategis. Ia pernah berjualan di kawasan sekitar jembatan besar arah Samarinda sebelum akhirnya menetap di sekitar SMAN 1 Tenggarong, yang kini menjadi lokasi utama usahanya.
Momentum libur Lebaran turut memberikan dampak terhadap peningkatan jumlah pembeli, meskipun fluktuatif. “Alhamdulillah, kemarin sempat ramai setengah hari. Tapi hari ini agak sepi, mungkin masih banyak yang di rumah,” katanya.
Sukardi menjual sempol ayam dengan harga Rp1.000 per tusuk. Dari usaha tersebut, ia mampu meraih omzet rata-rata sekitar Rp500.000 per hari, baik sebelum maupun selama libur Lebaran.
Namun demikian, ia mengakui adanya tantangan yang dihadapi, terutama terkait fluktuasi harga bahan baku seperti ayam dan telur yang cenderung tidak stabil.
“Kalau bahan baku naik, biasanya kita siasati. Kadang tidak langsung naik harga, tapi disesuaikan dulu. Kalau sudah terlalu tinggi, baru dipertimbangkan naik,” jelasnya.
Menurut Sukardi, kondisi ekonomi secara umum tidak terlalu berdampak signifikan terhadap keberlangsungan usahanya. Ia menekankan bahwa yang terpenting adalah usaha tetap berjalan dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Yang penting masih cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari,” ujarnya.
Keberadaan pelaku UMKM seperti Sukardi dinilai memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi lokal di Tenggarong. Selain membuka peluang usaha mandiri, sektor kuliner kaki lima juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi masyarakat, terutama dalam mendukung aktivitas ekonomi selama momentum libur Lebaran. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan