Konflik Saudi-Houthi Ganggu Ekspor Minyak via Bab al-Mandab

Konflik Arab Saudi dan Houthi berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Bab al-Mandab, sementara Riyadh untuk pertama kalinya terdampak langsung sejak ketegangan memanas pada Juli.

RIYADH – Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman mulai berdampak pada jalur ekspor minyak Riyadh melalui Selat Bab al-Mandab. Data perusahaan pelacak aktivitas maritim Kpler menunjukkan ekspor Arab Saudi melalui selat tersebut menurun sejak Juli, sementara pada Sabtu (19/09/2026) Riyadh juga diguncang suara ledakan setelah pemerintah mengeluarkan peringatan serangan udara.

Peringatan serangan udara tersebut diterima penduduk Riyadh sesaat sebelum pukul 03.00 waktu setempat. Warga diminta tetap berada di dalam ruangan karena terdapat ancaman serangan dari pihak yang disebut sebagai musuh.

“Wilayah ini sedang menghadapi ancaman serangan udara dari pihak musuh,” demikian bunyi pesan peringatan yang diterima penduduk ibu kota Arab Saudi.

Agence France-Presse (AFP) melaporkan terdengar dua kali suara ledakan di Riyadh. Peringatan tersebut kemudian dicabut sekitar 30 menit setelah dikeluarkan oleh badan pertahanan sipil Arab Saudi.

Peristiwa tersebut menjadi perkembangan baru dalam konflik terbuka antara Arab Saudi dan Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di Yaman. Riyadh disebut untuk pertama kalinya terdampak secara langsung sejak konflik kedua pihak memanas pada Juli.

Sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu (19/09/2026), eskalasi konflik juga berpengaruh terhadap aktivitas pelayaran di Selat Bab al-Mandab. Jalur tersebut selama ini digunakan Arab Saudi untuk mengangkut ekspor minyak guna menghindari Selat Hormuz.

Houthi menyatakan telah memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Kelompok tersebut sebelumnya melancarkan serangan untuk merebut seluruh pesisir Laut Merah Arab Saudi yang dinilai strategis karena penguasaan wilayah itu dapat memberi kendali atas akses menuju Selat Bab al-Mandab.

Meski aktivitas ekspor melalui jalur tersebut mengalami penurunan sejak Juli, data Kpler menunjukkan masih terdapat lima kapal bermuatan yang melintasi Selat Bab al-Mandab dalam sepekan terakhir.

Houthi menyatakan jalur pelayaran di selat tersebut tetap terbuka dan bebas, dengan pengecualian bagi kapal-kapal milik Arab Saudi. Kondisi itu membuat jalur maritim tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan konflik Saudi-Houthi.

Dampak konflik juga dirasakan masyarakat di kawasan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pada Jumat (18/09/2026) bahwa pertempuran yang kembali berkecamuk telah menyebabkan lebih dari 112 ribu orang mengungsi. Hampir 3.000 orang lainnya dilaporkan melarikan diri melalui laut menuju Djibouti.

Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan konflik Saudi-Houthi tidak hanya berdampak pada keamanan Riyadh, tetapi juga menyentuh aktivitas pelayaran dan jalur perdagangan energi serta mendorong perpindahan penduduk dalam jumlah besar di kawasan. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *