Kutim Genjot Hilirisasi Kakao dengan Industri Padat Karya

KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, secara aktif mendorong pengembangan hilirisasi komoditas kakao dengan menitikberatkan pada model industri padat karya. Kebijakan ini diambil untuk memastikan manfaat ekonomi dapat diserap secara langsung oleh petani dan masyarakat setempat.

“Fokus kami adalah mendorong industri pengolahan yang berbasis padat karya, bukan padat modal. Tujuannya agar sebaran ekonomi bisa langsung dinikmati oleh para petani dan masyarakat sekitar,” kata Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di Kutai Timur, Sabtu (23/08/2025).

Bupati menegaskan bahwa Kutai Timur, yang selama ini identik dengan sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit skala besar, perlu menciptakan keseimbangan ekonomi dengan memperkuat sektor pertanian berbasis kerakyatan. Selain kakao, sejumlah komoditas lain seperti pisang, nanas, dan karet juga tengah dipersiapkan untuk proses hilirisasi.

Ardiansyah menjelaskan bahwa potensi kakao di Kutai Timur telah dikenal sejak lama, bahkan sejak kabupaten ini pertama kali berdiri. Saat ini, produksi biji kakao masih tergolong stabil, dengan hasil antara 1.000 hingga 1.400 ton per tahun yang terutama berasal dari sentra produksi di Kecamatan Karangan dan Busang.

Meskipun sebagian perkebunan telah memasuki usia tua dan memerlukan peremajaan, semangat para petani untuk mengembangkan produk olahan tetap tinggi. Sebagai bukti, Ardiansyah menunjukkan produk olahan kakao berupa serbuk minuman yang dihasilkan oleh petani di Desa Karangan Ilir.

“Ini adalah contoh yang akan terus kami dukung agar produk olahannya semakin beragam,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten berkomitmen penuh untuk mendukung kelompok tani yang berminat mendirikan unit pengolahan. Bahkan, telah disiapkan dukungan untuk pembangunan hingga 10 pabrik pengolahan skala kecil dan menengah yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Mengenai investasi dari pihak luar, Ardiansyah menyatakan kesiapan daerah untuk menerima dengan syarat utama adanya kolaborasi dengan petani lokal. “Kami sangat menyambut baik investor yang ingin masuk. Skemanya nanti akan kita komunikasikan agar terjadi kemitraan yang saling menguntungkan antara investor dengan kelompok tani di lapangan,” jelasnya.

Pengembangan industri pengolahan kakao akan dipusatkan di Kecamatan Karangan. Pemilihan lokasi ini dinilai strategis untuk efisiensi biaya operasional, mengingat kedekatannya dengan sumber bahan baku sehingga memudahkan distribusi hasil panen petani.[]

Admin05

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com