Lahan kosong seluas 0,8 hektare di Desa Maning diolah prajurit Yonif TP 922/Upun Taka bersama masyarakat hingga menghasilkan panen perdana padi.
TANA TIDUNG – Lahan kosong seluas 0,8 hektare di Desa Maning, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Utara (Kaltara), kini berubah menjadi area persawahan setelah diolah secara bertahap oleh prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) TP 922/Upun Taka bersama masyarakat. Pemanfaatan lahan tersebut ditandai dengan panen perdana padi pada Selasa (29/09/2026).
Perubahan fungsi lahan itu menjadi salah satu bentuk pemanfaatan aset pertanian yang sebelumnya tidak produktif untuk mendukung ketahanan pangan di KTT. Pengolahan dilakukan mulai dari penyiapan lahan, penanaman, hingga perawatan tanaman sebelum memasuki masa panen.
Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) TP 922/Upun Taka Michael Connis Tanaem mengatakan lahan tersebut semula terbengkalai sebelum dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Menurutnya, pengolahan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan prajurit sejak tahap awal hingga penanaman padi.
“Awalnya lahan ini kosong, kemudian kami coba olah dan manfaatkan untuk pertanian. Kami bersama-sama mulai dari menyiapkan lahan sampai menanam padi,” kata Michael.
Dalam prosesnya, Danyonif Michael bersama Wakil Komandan Batalyon Infanteri (Wadanyonif) TP 922/Upun Taka Nirwan Adi Putranto dan seluruh prajurit turut bekerja di lahan. Keterlibatan langsung tersebut menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan tidak produktif membutuhkan kerja bersama dan pengelolaan berkelanjutan.
Sebagaimana diberitakan Tribun Kaltara, Selasa, (29/09/2026), panen perdana tersebut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) KTT Sabri, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta masyarakat Desa Maning.
“Jadi bukan hanya prajurit Yonif 922/Upun Taka yang bekerja, tetapi kita bersama-sama bagaimana lahan ini bisa menghasilkan. Alhamdulillah hari ini kita bisa melaksanakan [panen] perdana,” ujarnya.
Hasil panen perdana menjadi indikator awal bahwa lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi sumber produksi pangan apabila dikelola secara terencana dan konsisten. Pola tersebut sekaligus membuka peluang agar pemanfaatan lahan serupa dapat dikembangkan di lokasi lain.
Michael berharap pengelolaan lahan produktif tersebut tidak berhenti setelah panen perdana. Keberlanjutan kegiatan, menurut dia, perlu ditopang keterlibatan masyarakat agar manfaat pertanian dapat dirasakan dalam jangka lebih panjang.
“Harapannya ini bisa terus dikembangkan. Dengan adanya lahan yang kita manfaatkan seperti ini, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat dan mendukung [Ketahanan Pangan],” jelasnya
Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam pengembangan lahan tersebut karena keberlanjutan produksi pangan membutuhkan pengelolaan setelah momentum panen selesai. Kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat juga diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan potensi pertanian di KTT.
“Kita ingin menunjukkan bahwa dengan gotong royong dan kerja sama, lahan yang sebelumnya tidak produktif bisa kita manfaatkan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” pungkas Michael.
Model pemanfaatan lahan kosong tersebut diharapkan dapat menjadi contoh pengelolaan lahan yang produktif sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan. Dengan keberlanjutan pengelolaan dan replikasi di kawasan lain, lahan yang sebelumnya terbengkalai berpotensi memberikan nilai ekonomi dan manfaat pangan bagi masyarakat. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan