NEW ZEALAND – Tanah longsor menerjang sebuah lokasi perkemahan di kawasan Gunung Maunganui, Tauranga, Selandia Baru, dan menyebabkan enam orang dilaporkan hilang. Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah itu sejak Kamis, 22 Januari 2026, dan berdampak langsung pada area wisata yang dipadati keluarga yang tengah menikmati liburan sekolah musim panas.
Longsoran tanah terjadi secara tiba-tiba dan menyapu sebagian area perkemahan yang berada di kaki lereng. Sejumlah tenda dan fasilitas perkemahan dilaporkan tertimbun material tanah dan lumpur. Hingga Jumat (23/01/2026), keberadaan enam orang masih belum diketahui.
Pihak kepolisian Selandia Baru menyatakan proses pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung. Juru bicara kepolisian setempat mengatakan bahwa fokus utama saat ini adalah menemukan para korban yang belum dapat dihubungi.
“Kami telah menerima laporan enam orang yang belum berhasil dikontak sejak kejadian. Tim penyelamat masih menyisir lokasi longsor dan area sekitarnya,” ujar juru bicara kepolisian dalam keterangan kepada media.
Upaya pencarian melibatkan tim gabungan yang terdiri dari petugas darurat, relawan, serta unit pencarian dan penyelamatan khusus. Namun, kondisi medan yang berat serta tanah yang masih labil menjadi tantangan utama bagi petugas di lapangan. Selain itu, cuaca yang belum sepenuhnya stabil turut memperlambat proses evakuasi.
Otoritas manajemen darurat setempat menilai hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama terjadinya longsor. Seorang pejabat badan darurat mengatakan curah hujan dalam waktu singkat telah melemahkan struktur tanah di lereng gunung.
“Hujan deras yang turun terus-menerus membuat tanah tidak mampu menahan beban air. Situasi ini sangat berbahaya, terutama di area perkemahan yang berada dekat lereng,” katanya.
Sejumlah saksi mata yang berada di lokasi perkemahan mengaku panik saat longsor terjadi. Salah satu pengunjung mengatakan suara gemuruh terdengar sebelum tanah bergerak menuruni lereng. “Kami mendengar suara seperti runtuhan besar, lalu tanah dan lumpur langsung mengalir ke arah tenda. Semuanya terjadi sangat cepat,” ujarnya.
Pemerintah daerah Tauranga telah menutup sementara lokasi perkemahan tersebut dan mengimbau masyarakat untuk menjauhi area rawan longsor. “Keselamatan warga dan petugas adalah prioritas utama. Kami meminta masyarakat mematuhi semua peringatan yang telah dikeluarkan,” kata perwakilan pemerintah daerah.
Hingga kini, pihak berwenang menegaskan pencarian akan terus dilakukan sampai seluruh korban ditemukan, sembari mengevaluasi kembali standar keselamatan kawasan wisata yang berada di daerah rawan bencana. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan