Mahasiswa Undip Dihajar 30 Orang, Arnendo Alami Gegar Otak

JAWA TENGAH – Dugaan aksi brutal yang menimpa seorang mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) mengguncang jagat media sosial. Arnendo (20), mahasiswa Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh puluhan mahasiswa di kawasan Tembalang, Kota Semarang.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan wajah dan tubuh korban penuh luka lebam. Kuasa hukum korban, Zaenal Petir, menyebut kliennya mengalami cedera serius akibat insiden tersebut.

“Klien kami mengalami patah tulang hidung, gegar otak, dan gangguan saraf mata. Ini bukan perkelahian biasa, ini pengeroyokan,” ujar Zaenal, Rabu (04/03/2026).

Peristiwa itu terjadi pada 15 November 2025 sekitar pukul 10.57 WIB. Korban disebut menerima ajakan dari seorang mahasiswa semester 4 untuk berdiskusi di sebuah rumah kos di Jalan Bulusan Utara Raya, Bulusan, Kecamatan Tembalang. Agenda yang disebutkan saat itu adalah membicarakan rencana acara musik kolektif kampus.

Pada pukul 22.03 WIB, Arnendo mendatangi lokasi. Namun setibanya di sana, suasana tak seperti yang dibayangkan. Halaman kos dipenuhi banyak mahasiswa.

Menurut keterangan kuasa hukum, korban kemudian didesak mengakui tuduhan pelecehan terhadap seorang mahasiswi. Arnendo membantah keras tuduhan tersebut dan mencoba menjelaskan duduk perkara yang terjadi sebelumnya.

Zaenal menjelaskan, interaksi yang dipersoalkan hanya sebatas menarik tangan mahasiswi tersebut untuk mengajaknya menuju warung makan dalam konteks kegiatan kampus.

“Tidak ada pelecehan. Saat itu situasinya ramai, dan korban tidak sendiri. Itu bagian dari aktivitas mengumpulkan tim sukses pemilihan ketua himpunan,” tegasnya.

Perdebatan berlangsung sekitar satu jam. Situasi memanas sekitar pukul 23.00 WIB ketika salah satu mahasiswa semester 6 diduga mulai memukul korban. Setelah itu, suasana berubah menjadi aksi kekerasan massal.

Zaenal mengungkapkan, sekitar 30 orang mengerubungi korban dan melakukan pemukulan serta penendangan secara bergantian. Pakaian korban bahkan dilepas paksa saat aksi berlangsung.

“Korban dipukuli dan ditendang ramai-ramai. Ada yang mencoba menolong, tetapi justru didorong agar tidak ikut campur,” katanya.

Penganiayaan disebut berlangsung berjam-jam hingga terdengar azan subuh sekitar pukul 04.15 WIB. Setelah itu, korban diantar kembali ke tempat kosnya dalam kondisi luka parah.

Keesokan harinya, 16 November 2025 pukul 08.15 WIB, Arnendo dibawa ke RS Banyumanik 2 untuk mendapatkan perawatan. Ia dirawat hingga sore hari sebelum akhirnya dipindahkan ke RS Bina Kasih Ambarawa agar lebih dekat dengan keluarga. Perawatan berlanjut hingga 21 November 2025.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami patah tulang hidung, gegar otak, serta gangguan saraf mata. Saat ini Arnendo yang duduk di semester 4 memilih cuti kuliah karena trauma mendalam.

“Dia terpaksa cuti. Kondisinya belum pulih sepenuhnya, sementara para terduga pelaku yang satu jurusan dengannya belum juga ditangkap,” ujar Zaenal.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Andika Dharma Sena membenarkan adanya laporan terkait dugaan pengeroyokan tersebut.

“Iya, laporan sudah kami terima dan sedang dalam proses penyelidikan,” singkatnya.

Kasus ini memantik perhatian publik dan menambah sorotan terhadap dinamika internal mahasiswa di lingkungan kampus. Aparat kini diminta bergerak cepat mengusut tuntas dugaan kekerasan yang mencoreng dunia pendidikan tersebut. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com