KUTAI KARTANEGARA – Masjid Kapal Munzalan yang berada di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, hadir dengan konsep arsitektur unik menyerupai sebuah kapal. Desain tersebut tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga memiliki makna filosofis yang diambil dari kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an.
Masjid yang kini berkembang sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat itu dibangun dengan tujuan menghadirkan tempat ibadah yang tidak hanya berfungsi untuk salat berjamaah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat.

Pimpinan Pascasarjana (Paskas) Masjid Kapal Munzalan, Wahyudi, menjelaskan bahwa pemilihan konsep kapal memiliki pesan spiritual yang kuat. Menurutnya, kisah Nabi Nuh menjadi pengingat tentang pentingnya hidayah serta ketaatan manusia kepada Allah.
“Konsep masjid ini diambil dari kisah Nabi Nuh. Dari kisah itu kita mengambil ibrah bahwa hidayah itu mutlak milik Allah dan tidak ada hubungannya dengan kedekatan keluarga,” ujar Wahyudi saat ditemui di Masjid Kapal Munzalan, Loa Kulu, Sabtu (14/03/2026).
Ia menjelaskan, dalam kisah Nabi Nuh diceritakan bahwa tidak semua anggota keluarga beliau memperoleh hidayah. Hal tersebut menjadi pelajaran bahwa kedekatan hubungan keluarga tidak menjamin seseorang berada di jalan yang sama dalam hal keimanan.
Karena itu, menurut Wahyudi, setiap individu perlu berupaya mendekatkan diri kepada Allah secara pribadi melalui ibadah, ilmu, dan amal kebaikan.
Selain menggambarkan kisah Nabi Nuh, konsep kapal pada masjid ini juga berkaitan dengan doa Nabi Nuh yang tercantum dalam Al-Qur’an. Doa tersebut menjadi inspirasi dalam penamaan dan semangat pembangunan Masjid Munzalan.
“Doanya adalah ‘Rabbi anzilni munzalan mubārakan’, artinya tempat yang diberkahi. Kami berharap tempat ini menjadi kampung berkah, yaitu kampung yang warganya taat kepada Allah dengan cara meramaikan masjid,” jelasnya.
Seiring perkembangannya, Masjid Kapal Munzalan tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat berbagai aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Pengelola masjid menyediakan sejumlah layanan, seperti pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf melalui lembaga Baitulmal. Selain itu, terdapat fasilitas pendukung seperti studio rekaman dan podcast yang dimanfaatkan untuk kegiatan dakwah digital.
Masjid ini juga mengembangkan unit usaha berbasis masjid, antara lain Munzalan Store dan Munzalan Mart, yang diharapkan dapat membantu menopang kegiatan sosial serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Tidak hanya itu, pengurus juga menghadirkan program layanan kesehatan gratis melalui Rumah Sehat Munzalan. Beberapa fasilitas lain yang tersedia antara lain taman bermain anak, usaha rintisan seperti katering, laundry, dan barbershop, serta rencana pembangunan lapangan mini soccer.
Di bidang pendidikan, pengelola masjid mendirikan Pondok Pesantren Munzalan Sinar Quran Kukar. Pesantren tersebut telah mulai menerima santri dari berbagai daerah, seperti Tenggarong, Muara Badak, Sebulu, hingga Palangkaraya.
“Kami ingin mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang nantinya bisa kembali ke masyarakat dan memakmurkan masjid-masjid di daerah,” kata Wahyudi.
Menurutnya, pembangunan masjid beserta berbagai program yang dijalankan hingga saat ini tidak lepas dari dukungan masyarakat yang memberikan donasi secara sukarela.
“Semua ini dari warga dan kembali lagi untuk warga. Kami hanya menjadi jembatan agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat luas,” pungkasnya. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan