Menantang Debu dan Jurang, Catatan Perjalanan ke Ujoh Bilang

MENINGGALKAN rumah di Desa Selerong, Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara tepat pukul 08.00 pagi, rasanya seperti menanggalkan satu per satu beban dunia modern. Dengan sepeda motor sebagai kawan setia, saya melaju membelah jalanan menuju arah hulu.

Titik temu pertama adalah Masjid Al-Mujahidin di Desa Lebaho Ulak. Di sana, saya menunggu teman. Kami sepakat menempuh rute ini bersama, meski tujuan akhir kami berbeda; ia menuju Barong Tongkok di Kutai Barat, sementara saya bertekad menembus Ujoh Bilang, jantung Mahakam Ulu.

Setelah memastikan tangki bahan bakar penuh, perjalanan dimulai. Sepanjang mata memandang, barisan pohon menjadi saksi bisu kecepatan kami. Sebagai pengelana yang baru pertama kali mencicipi aspal arah hulu Mahakam, Google Maps menjadi satu-satunya kompas digital yang kami andalkan.

Namun, realitas di lapangan lebih keras dari sekadar garis di layar ponsel. Angin deras menerpa wajah, beradu dengan deru truk-truk pengangkut sawit yang melintas silih berganti. Ada rasa khawatir yang menyelinap setiap kali kendaraan raksasa itu berpapasan, memaksa kami untuk ekstra waspada.

Empat jam berlalu, namun kami seolah “terjebak” dalam luasnya Kutai Kartanegara. Infrastruktur jalan yang memadai membuat perjalanan terasa mulus hingga kami tiba di Desa Muara Leka, Kecamatan Muara Muntai, untuk kembali mengisi bahan bakar.

Perbedaan mencolok menyambut saat kami melewati gapura perbatasan Kutai Barat (Kubar). Seolah berpindah negara, aspal mulus yang kami nikmati sebelumnya mendadak berganti wajah. Jalanan berlubang, kerikil yang berhamburan, dan truk-truk besar yang memenuhi jalur menjadi tantangan baru.

Debu dari perkebunan sawit mengepung sepanjang jalan. Setelah perjuangan panjang, kami akhirnya tiba di Barong Tongkok tepat pukul 20.00 malam. Tubuh yang didera pegal luar biasa memaksa kami beristirahat di Penginapan Anggrek Hitam. Di titik inilah perjalanan kawan saya usai, sementara babak baru bagi saya baru saja dimulai.

Perbatasan Kutai Kartanegara-Kutai Barat

Keesokan paginya, setelah pengecekan mesin dan logistik yang saksama, saya melanjutkan perjalanan solo menuju Ibukota Mahakam Ulu (Mahulu) kabupaten paling ujung di Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Ini adalah pertama kali perjalanan saya menuju Ujoh Bilang.

Melintasi Kecamatan Linggang Bigung, Tering, hingga Long Iram, jalanan semenisasi yang baru memberikan sedikit napas lega. Namun, suasana berubah mencekam saat roda motor mulai memasuki wilayah Mahulu. Di tengah kepungan pohon-pohon raksasa, sinyal seluler seketika lenyap.

Saya terlempar ke dalam kesunyian hutan tanpa koneksi internet. Jalan berbatu, tanjakan terjal, jembatan kayu, hingga jurang yang menganga di sisi jalan membuat adrenalin terpacu. Pertanyaan “apakah motor ini sanggup menembus kampung terdekat?” terus berdengung di kepala.

Kondisi Tanjakan Terjal

Setelah berjam-jam bertaruh nyali, saya tiba di rest area Kecamatan Long Hubung. Di sana, saya sempat berbincang dengan sesama pelancong. Meski tidak bisa berangkat bersama karena ia ingin mencari titik memancing terlebih dahulu, ia memberikan panduan berharga: “Ikuti saja jalan ini, jangan berbelok lagi.”

Poros Tering – Ujoh Bilang

Sepanjang jalur Mahulu, alat-alat berat tampak sibuk menggarap proyek jalan sebuah tanda bahwa kemajuan perlahan mulai merayap ke hulu. Ketika papan nama Desa Long Melaham terlihat, rasa haru menyergap. Itu adalah tanda bahwa tujuan saya sudah di depan mata.

Poros Tering – Ujoh Bilang

Tepat pukul 13.30, saya akhirnya menginjakkan kaki di Ujoh Bilang. Dengan tas punggung yang masih melekat, saya menyusuri jalanan, bertanya pada warga lokal, hingga akhirnya memutuskan untuk menetap di Kost Melvina, tak jauh dari Polsek Long Bagun. Perjalanan panjang itu berakhir, berganti dengan babak baru kehidupan di hulu sungai.[]

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com