Gambar Ilustrasi

Modus Trading Palsu, Uang UMKM Bontang Raib

BONTANG – Harapan meraih keuntungan besar justru berakhir petaka. Puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Bontang mengaku menjadi korban dugaan investasi bodong berkedok jasa trading. Total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Salah satu korban, Alif, mengungkapkan dirinya kehilangan sekitar Rp70 juta setelah tergiur tawaran pengelolaan modal yang dijanjikan memberi keuntungan berlipat dalam waktu singkat. “Awalnya saya percaya karena dia dikenal baik dan sering bantu UMKM. Saya sama sekali tidak curiga,” ujar Alif saat dikonfirmasi, Sabtu (10/01/2026).

Menurut Alif, tawaran tersebut datang melalui pesan langsung media sosial sejak Agustus 2025. Ia diminta menyerahkan modal, sementara akun trading dibuat dan dikelola sepenuhnya oleh terduga pelaku berinisial DE. “Katanya ini sistem eksklusif. Modal disetor, nanti keuntungan dibagi setelah tiga bulan,” katanya.

Kepercayaan korban semakin kuat karena DE dikenal luas di kalangan pedagang kecil dan kerap membeli dagangan UMKM. Bahkan, sebagian pedagang mengaku sering menunggu kehadiran DE untuk membeli barang dagangan mereka.

Namun, dalam perjalanannya, korban terus diminta menyetor dana tambahan dengan berbagai alasan, termasuk biaya yang disebut sebagai pajak penarikan. “Setiap kali mau cair, selalu ada alasan. Katanya kena pajak, kena biaya sistem, dan harus nambah modal,” tutur Alif.

Janji pencairan dana yang semula dijadwalkan November 2025 terus molor hingga akhir Desember. Kecurigaan muncul setelah korban lain mengunggah pengalaman serupa di media sosial pada awal Januari 2026.

Korban lain, Farah, mengaku mengalami kerugian sekitar Rp10 juta. Ia menyebut sebagian besar korban merupakan pelaku UMKM yang telah lama mengenal terduga pelaku. “Kami percaya karena dia selama ini terlihat membantu pedagang. Tapi janji pengembalian tidak pernah ditepati,” kata Farah.

Upaya para korban mendatangi rumah DE pun tidak membuahkan hasil. Rumah tersebut didapati dalam kondisi terkunci rapat. “Kami datang ke rumahnya, tapi sudah digembok. Tidak ada orang sama sekali,” ungkap Farah.

Saat ini, sekitar 20 korban telah membentuk grup komunikasi untuk menghimpun bukti-bukti. Mereka mengaku telah berkonsultasi dengan pihak kepolisian dan tengah menyiapkan laporan resmi. “Kami diminta mengumpulkan bukti lengkap dulu sebelum melapor secara resmi,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pelaku UMKM agar lebih waspada terhadap tawaran investasi dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com