Pedagang takjil di Kubar mengalami penurunan omzet akibat melemahnya daya beli dan cuaca, sebelum kembali meningkat menjelang Idulfitri.
KUTAI BARAT – Pedagang takjil di kawasan Melak, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), mengalami penurunan omzet selama Ramadan 2026, terutama pada pertengahan hingga akhir bulan puasa akibat melemahnya daya beli masyarakat dan faktor cuaca, sebelum kembali menunjukkan peningkatan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kondisi ini dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengandalkan penjualan musiman selama Ramadan untuk mendongkrak pendapatan.
Salah satu pedagang, Depita, mengaku penurunan penjualan mulai terasa sejak pertengahan Ramadan, meski pada awal bulan sempat mengalami peningkatan. “Kalau tahun ini agak menurun dari tahun kemarin. Awal Ramadan alhamdulillah, tapi pertengahan sempat turun,” ujarnya saat ditemui, Rabu (18/03/2026).
Menurutnya, melemahnya penjualan kemungkinan dipengaruhi belum cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) bagi sebagian masyarakat. “Mungkin belum dapat THR, jadi belanjanya agak menurun,” katanya.
Depita yang telah berjualan sejak 2010 tetap bertahan dengan menawarkan berbagai jenis takjil, seperti lemang, baulu, pecak, bingkak berendam, tapai, risoles, serta lauk-pauk dengan harga sekitar Rp25 ribu per porsi.
Ia membuka lapak setiap hari mulai pukul 12.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA) hingga menjelang waktu berbuka puasa. Omzet yang diperoleh bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga sekitar Rp2 juta pada hari-hari ramai.
Memasuki akhir Ramadan, tren penjualan mulai meningkat seiring kebutuhan masyarakat yang kembali naik menjelang Lebaran. Depita pun berencana menghentikan aktivitas berdagang sehari sebelum Idulfitri.
Sementara itu, kondisi serupa juga dirasakan pedagang lain di Pasar Ramadan Melak. Bu Erda mengungkapkan jumlah pembeli cenderung menurun menjelang akhir Ramadan.

“Sepi, Bang. Padahal tahun-tahun dulu rasanya beda. Tahun ini agak sepi,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, Kamis (19/03/2026).
Ia menilai, cuaca hujan yang kerap terjadi menjelang waktu berbuka turut memengaruhi minat masyarakat untuk berbelanja takjil. “Hujan terus kan, itu pengaruh juga,” tambahnya.
Bu Erda menjual berbagai jenis takjil, mulai dari kue tradisional hingga makanan ringan, baik hasil produksi sendiri maupun titipan dari pihak lain. “Macam-macam jualannya, ada amparan tatak, tape, keropok, kue cucur, sama titipan juga dari orang,” jelasnya.
Harga yang ditawarkan berkisar Rp10.000 hingga Rp25.000 per porsi. Selain berjualan langsung, ia juga menerima pesanan kue seperti bolu, tape ketan, dan kue semprong.
Dalam sehari, pendapatan kotor yang diperoleh sekitar Rp900 ribu, meski tidak menentu tergantung kondisi penjualan. “Kadang kurang, kadang lebih,” katanya.
Meski menghadapi penurunan pembeli, Bu Erda tetap berkomitmen berjualan hingga hari terakhir Ramadan. “Rencana sampai hari terakhir,” ujarnya.
Kedua pedagang tersebut berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubar terhadap pelaku UMKM, khususnya dalam penataan lokasi berjualan agar lebih tertib dan nyaman, serta peningkatan daya beli masyarakat.
“Mudah-mudahan diperhatikan sama pemerintah, terutama untuk UMKM supaya lebih tertata,” harapnya.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, pedagang takjil di Kubar tetap bertahan sambil berharap kondisi pasar kembali normal dan pembeli semakin ramai menjelang dan setelah Idulfitri. []
Penulis: Muhammad Jamaluddin | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan