gambar ilustrasi

Orangutan Cari Makan di Sampah, Alarm Keras untuk Kutim

KUTAI TIMUR – Potret memilukan seekor orangutan yang mengais sisa makanan di tumpukan sampah liar di tepi Jalan Poros Sangatta–Bengalon membuka kembali luka lama soal menyempitnya ruang hidup satwa liar. Video yang viral di media sosial itu direkam di kawasan Bengalon, wilayah yang kini menjadi jalur lintasan orangutan setelah hutan alaminya terbelah oleh tambang batu bara dan perkebunan kelapa sawit.

Rekaman tersebut segera memicu respons cepat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra konservasi. Tim gabungan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi satwa dan potensi ancaman di lokasi.

Penelusuran akhirnya membuahkan hasil. Seekor orangutan jantan dewasa berhasil dilacak dan diamankan tidak jauh dari titik sampah pada Rabu 27 Januari 2026. Identifikasi dilakukan melalui kombinasi pelacakan lapangan dan informasi warga sekitar.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menyebut keberadaan orangutan tersebut dipastikan masih berada di wilayah Kutai Timur dan beraktivitas di sekitar jalur poros yang ramai kendaraan.

“Begitu video itu beredar, kami langsung menurunkan tim penyelamatan satwa. Dari hasil pengecekan, individu tersebut memang berkeliaran di koridor Sangatta–Bengalon,” jelasnya, Selasa (03/02/2026).

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan orangutan tersebut berusia sekitar 18 hingga 20 tahun. Kondisi kesehatannya dinyatakan baik dan naluri liarnya masih kuat, sehingga tidak diperlukan rehabilitasi jangka panjang.

“Secara medis tidak ada masalah. Karena masih liar dan tidak tergantung manusia, kami memilih segera mengembalikannya ke kawasan hutan yang lebih aman,” ujar Ari.

Satwa itu kemudian dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, yang dinilai lebih layak sebagai habitat alami. Langkah cepat ini diambil mengingat risiko tinggi jika orangutan terus berada di sekitar jalan raya.

“Area tersebut sangat berbahaya. Lalu lintas padat, aktivitas manusia tinggi, dan tidak menyediakan ruang hidup yang memadai bagi orangutan,” katanya.

Di sisi lain, Director CAN Borneo, Paulinus Kristanto, menyoroti fakta bahwa lokasi tempat orangutan mencari makan merupakan titik pembuangan sampah ilegal yang telah lama ada.

“Itu bukan tempat pembuangan resmi. Sampah rumah tangga dibuang begitu saja, sementara hutan di sekelilingnya sudah nyaris habis,” ungkap Paulinus.

Ia menjelaskan, jarak antara lokasi sampah dan area tambang hanya puluhan meter. Kondisi ini membuat orangutan kehilangan sumber pakan alami dan terdorong mendekati aktivitas manusia.

“Ketika hutan terfragmentasi, satwa akan mencari opsi paling mudah untuk bertahan hidup. Sampah manusia menjadi pilihan terakhir,” ujarnya.

Paulinus mengingatkan, kebiasaan membuang sisa makanan di pinggir jalan berpotensi mengubah perilaku satwa liar secara permanen.

“Jika orangutan terbiasa dengan makanan manusia, risikonya besar. Mereka bisa masuk ke permukiman atau berkeliaran di jalan, dan itu berbahaya bagi satwa maupun manusia,” pungkasnya. []

Redaksi4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com