Sebanyak 500 kilogram benih padi yang ditebar langsung di kawasan Danau Semayang mulai tumbuh, memperlihatkan potensi kearifan lokal masyarakat Kukar sebagai metode pertanian yang murah dan menyesuaikan kondisi alam.
KUTAI KARTANEGARA – Metode tanam padi dengan menebar benih langsung ke kawasan Danau Semayang, Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), mulai menunjukkan hasil. Sebanyak 500 kilogram benih yang sebelumnya disalurkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar disebut telah tumbuh, sekaligus memperkuat keyakinan pemerintah terhadap kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan karakteristik danau untuk pertanian.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan metode tersebut bukan praktik baru bagi masyarakat Semayang. Warga telah memanfaatkan kondisi alam setempat sebagai bagian dari cara bertani yang diwariskan dan diterapkan sesuai karakter kawasan danau.
“Bagi kami ini adalah sesuatu yang sudah berhasil dilakukan oleh warga masyarakat di sana. Ini kearifan lokal masyarakat di sana dan tugas kami sebagai pemerintah adalah men-support apa yang dilakukan oleh warga masyarakat yang ada di sana,” kata Aulia di Tenggarong, Jumat (11/09/2026).
Pemkab Kukar sebelumnya memberikan bantuan sebanyak 500 kilogram benih padi kepada masyarakat. Benih tersebut kemudian ditebar warga menggunakan metode lokal langsung di kawasan Danau Semayang.
Setelah penanaman pertama, masyarakat kembali mengajukan tambahan benih karena masih terdapat area yang dinilai dapat dimanfaatkan. Pemkab Kukar kemudian melakukan peninjauan lapangan bersama Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kaltim dan Dinas Pertanian untuk melihat secara langsung metode yang diterapkan warga.
Dalam peninjauan tersebut, masyarakat memperagakan cara menebar benih langsung ke area danau. Secara kasatmata, metode itu menyerupai kegiatan menaburkan padi ke perairan. Namun, Aulia menjelaskan karakter Danau Semayang berbeda dengan sungai karena air di kawasan tersebut relatif tidak mengalir.
“Jangan dibayangkan seperti aliran sungai. Danau itu statis. Airnya tidak mengalir, airnya di situ-situ saja,” ujarnya.
Aulia mengakui metode tersebut sempat menimbulkan pertanyaan ketika pertama kali disaksikannya. Selama mendampingi kegiatan pertanian, ia mengaku belum pernah menemukan pola penanaman padi seperti yang dilakukan warga Semayang.
Keraguan itu mulai terjawab setelah benih yang disalurkan sekitar setengah bulan sebelumnya menunjukkan pertumbuhan di kawasan yang masih tergenang air.
“Fakta di lapangan memperlihatkan kepada kami bahwa tanaman pertama yang sudah kita kirim sekitar setengah bulan sebelumnya, 500 kilogram, itu tumbuh,” katanya.
Menurut Aulia, salah satu kelebihan metode tersebut adalah biaya budidaya yang relatif rendah karena tidak memerlukan pengolahan lahan secara intensif maupun perlakuan khusus sebagaimana pola tanam pada sawah konvensional.
Meski demikian, keberhasilan metode tersebut hingga masa panen masih perlu dipantau. Pemkab Kukar bersama Dinas Pertanian dan BRMP Kaltim akan mengidentifikasi potensi serangan hama serta menentukan langkah pengendalian apabila ditemukan gangguan terhadap tanaman.
Pemkab Kukar berharap pertumbuhan padi di Danau Semayang dapat berlanjut hingga masa panen. Apabila menunjukkan hasil yang baik, praktik tersebut berpotensi memperkuat pemanfaatan kearifan lokal sebagai salah satu alternatif produksi pangan yang menyesuaikan kondisi lingkungan dan sumber daya air di Kukar. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan