PALANGKA RAYA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menaikkan level kewaspadaan terhadap potensi masuknya virus nipah, penyakit zoonosis mematikan yang menjadi perhatian global. Langkah antisipasi dilakukan dengan memperketat pergerakan hewan ternak lintas daerah hingga memperkuat pengamanan kandang di seluruh wilayah rawan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Kalteng, Rendy Lesmana, menyatakan pengawasan lalu lintas ternak kini menjadi fokus utama, terutama di kawasan perbatasan antarkabupaten dan antardaerah.
Ia menyebut koordinasi telah dilakukan dengan seluruh dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan di tingkat kabupaten/kota untuk memastikan tidak ada celah masuknya penyakit dari luar wilayah. “Pengendalian lalu lintas ternak kami perketat, disertai disinfeksi secara luas dan pendistribusian cairan disinfektan ke daerah-daerah,” kata Rendy saat dikonfirmasi, Jumat (30/01/2026).
Selain pengawasan distribusi ternak, upaya pencegahan juga menyasar lingkungan peternakan. Pemerintah daerah melakukan pengamanan kandang guna mencegah kontak ternak dengan hewan pembawa virus, khususnya satwa liar yang berpotensi menjadi carrier.
Menurut Rendy, pendekatan pencegahan ini tidak hanya berorientasi teknis, tetapi juga menyasar ketenangan masyarakat. Edukasi dan penyebaran informasi terus dilakukan agar warga tetap waspada tanpa diliputi kepanikan. “Intinya kami ingin masyarakat merasa aman. Informasi yang benar terus kami sampaikan agar tidak terjadi keresahan,” ujarnya.
Meski hingga awal 2026 belum ditemukan kasus infeksi virus nipah pada manusia di Indonesia, Rendy menegaskan bahwa kewaspadaan tetap harus dijaga. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan Indonesia masih bebas kasus, namun potensi penularan tetap ada melalui interaksi manusia dan hewan.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari konsumsi makanan berisiko, seperti daging hewan liar dan buah-buahan yang telah tergigit kelelawar. Kontak langsung dengan habitat kelelawar juga diminta untuk dihindari.
“Virus nipah termasuk penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia dan belum pernah ditemukan kasusnya di Indonesia. Justru karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini,” tegasnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kalteng Suyuti Syamsul menyampaikan bahwa sektor kesehatan turut mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar lebih selektif dalam mengonsumsi bahan pangan asal hewan.
Ia menekankan pentingnya menghindari makanan dari hewan yang tidak lazim dikonsumsi atau berasal dari satwa liar. “Dari sisi kesehatan, kami mengingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging atau makanan yang sumbernya tidak jelas dan berisiko,” katanya.
Langkah terpadu lintas sektor ini diharapkan mampu memperkecil peluang masuknya virus nipah ke Kalimantan Tengah, sekaligus menjaga keamanan pangan dan kesehatan masyarakat di tengah meningkatnya mobilitas hewan antardaerah. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan