NUNUKAN – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, memicu keresahan masyarakat sejak akhir pekan lalu. Kondisi tersebut menjadi perbincangan hangat di berbagai media sosial warga di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia itu. Terbatasnya pasokan membuat sejumlah Agen Penjualan Minyak dan Solar (APMS) tidak beroperasi, sehingga warga kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini memicu antrean dan pembelian BBM secara berlebihan oleh masyarakat. Tidak sedikit warga yang akhirnya beralih membeli BBM eceran yang dijual di pinggir jalan. Namun, harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi dari harga normal.
Di sejumlah titik penjualan eceran, BBM jenis Pertalite bahkan dijual dalam kemasan botol air mineral ukuran 1,5 liter dengan harga mencapai Rp30.000 per botol. Harga tersebut jauh di atas harga normal yang berkisar Rp10.000 per liter. Kondisi ini menunjukkan bagaimana kelangkaan pasokan dapat memicu lonjakan harga di tingkat pengecer.
Meningkatnya permintaan masyarakat disebut-sebut berkaitan dengan kekhawatiran terhadap ketersediaan BBM di wilayah tersebut. Isu mengenai ketegangan geopolitik internasional, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, turut memicu kekhawatiran warga akan dampaknya terhadap distribusi energi.
Menanggapi situasi tersebut, Bupati Nunukan Irwan Sabri menegaskan bahwa kelangkaan yang terjadi bukan disebabkan oleh menipisnya stok BBM, melainkan keterlambatan distribusi dari Kota Tarakan.
Menurut Irwan, pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pihak Pertamina untuk memastikan penyebab keterlambatan pengiriman. Ia menjelaskan bahwa proses pemuatan BBM di pelabuhan memerlukan waktu karena menggunakan kapal berkapasitas terbatas.
“Kami sudah berkomunikasi dengan Pertamina Tarakan. Keterlambatan ini terjadi karena proses pemuatan harus dilakukan secara bergantian karena kapal yang digunakan tidak berukuran besar,” kata Irwan dalam keterangan tertulis, Senin (09/03/2026).
Ia memastikan bahwa stok BBM untuk Kabupaten Nunukan sebenarnya masih tersedia dan pasokan akan terus dikirim secara berkala sesuai jadwal distribusi yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, Irwan juga meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Ia menilai aksi panic buying justru dapat memperparah situasi di lapangan. “Tidak perlu panik atau membeli BBM secara berlebihan. Persediaan masih aman dan kami memastikan kebutuhan masyarakat, termasuk menjelang Idul Fitri, tetap dapat terpenuhi,” ujarnya.
Irwan menambahkan bahwa kapal pengangkut BBM telah berada di wilayah Pulau Sebatik sejak malam sebelumnya. Jika tidak ada kendala, distribusi BBM ke Nunukan diperkirakan segera dilakukan dalam waktu dekat.
“Pengiriman sudah berjalan. Kapal pembawa BBM sudah berada di Sebatik dan diharapkan hari ini bisa masuk ke Nunukan,” pungkasnya.
Pemerintah daerah berharap kondisi distribusi BBM dapat segera kembali normal sehingga aktivitas masyarakat di wilayah perbatasan tersebut tidak terganggu. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan