AS mengizinkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan delegasi inti menghadiri Sidang Umum PBB ke-81 di New York, tetapi tetap memberlakukan pembatasan perjalanan dan aktivitas selama berada di AS.
NEW YORK – Amerika Serikat (AS) mengizinkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan sejumlah pejabat senior Iran menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, meski hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam situasi tegang. Delegasi Iran tetap akan menghadapi pembatasan perjalanan dan larangan membeli barang mewah selama berada di AS.
Keputusan tersebut membuat Pezeshkian bersama Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dapat mengikuti rangkaian pertemuan tingkat tinggi PBB yang dijadwalkan berlangsung mulai 22 September hingga 28 September 2026. PBB mencatat debat umum Sidang Umum ke-81 berlangsung pada 22-26 September dan dilanjutkan pada 28 September.
Langkah Washington tersebut berkaitan dengan kewajibannya sebagai negara tuan rumah markas besar PBB. Perjanjian Markas Besar PBB-Amerika Serikat 1947 mengatur akses bagi perwakilan negara anggota yang memiliki urusan resmi dengan PBB. Dalam penerapannya, AS tetap memiliki kewenangan untuk mengatur kondisi tertentu terkait keberadaan dan pergerakan orang yang masuk ke wilayahnya, sementara hak akses ke kawasan markas PBB memiliki pengaturan khusus.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan delegasi Iran yang diizinkan datang akan berjumlah lebih sedikit dibandingkan sebelumnya serta dikenai pembatasan perjalanan dan pembelian barang tertentu. Kebijakan itu menunjukkan bahwa pemberian akses ke agenda PBB tidak berarti seluruh pembatasan terhadap pejabat Iran dicabut.
Di sisi lain, keputusan tersebut berlangsung ketika ketegangan terkait Iran belum sepenuhnya mereda. Iran juga menyatakan sikap keras mengenai Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan dan pasokan energi global.
Mohammad Baqer Zolqadr, penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, mengatakan Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih berkuasa.
“Para pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz sampai Trump yang kriminal dan Netanyahu yang haus darah diturunkan dari kursi kekuasaan mereka, dan ini merupakan tahap pertama pembalasan bangsa Iran,” kata Zolqadr seperti dikutip kantor berita ISNA, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (18/09/2026).
Pernyataan tersebut menambah dimensi ketegangan menjelang pertemuan para pemimpin dunia di New York. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair ke pasar global sehingga gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi berdampak pada perdagangan dan energi internasional.
Di forum PBB, delegasi Iran akan memasuki panggung diplomasi ketika isu konflik, keamanan kawasan, dan stabilitas energi masih menjadi perhatian internasional. Sidang Umum ke-81 mengusung tema Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations That Delivers for All dan menjadi forum bagi para kepala negara serta pemerintahan untuk menyampaikan posisi mereka mengenai berbagai persoalan global.
Dengan demikian, kehadiran Pezeshkian di New York tidak hanya menjadi agenda kenegaraan Iran, tetapi juga membuka ruang bagi penyampaian sikap Teheran di tengah ketegangan dengan Washington. Pembatasan yang tetap diberlakukan AS sekaligus memperlihatkan bahwa akses diplomatik ke forum PBB berjalan berdampingan dengan kebijakan pembatasan terhadap delegasi Iran. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan