Pezeshkian Dorong OKI Kurangi Ketergantungan Ekonomi ke Luar

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai perdagangan antarnegara anggota OKI masih rendah sehingga perlu diperkuat untuk menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik.

JAKARTA – Tekanan ekonomi akibat sanksi Amerika Serikat (AS) mendorong Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penguatan perdagangan antarnegara Muslim. Ia menilai kerja sama ekonomi di antara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) masih jauh dari potensinya dan perlu diperluas untuk memperkuat ketahanan ekonomi negara-negara anggotanya.

Seruan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-40 pada Kamis (27/8/2026). Ia menyoroti rendahnya porsi perdagangan antaranggota OKI dibandingkan dengan potensi jumlah penduduk dan posisi strategis kawasan Muslim dalam perekonomian dunia.

Menurut Pezeshkian, hanya sekitar 19 persen ekspor negara-negara anggota OKI yang ditujukan kepada sesama anggota. Sebagian besar perdagangan masih berlangsung dengan negara-negara di luar organisasi tersebut sehingga pertumbuhan ekonomi OKI dinilai belum mencerminkan besarnya potensi yang dimiliki.

Pezeshkian karena itu mendorong peningkatan perdagangan di antara negara-negara anggota OKI. Menurut dia, hubungan ekonomi yang lebih erat dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan pertumbuhan sekaligus memperkuat posisi negara-negara Muslim menghadapi tekanan ekonomi global.

Seruan tersebut muncul ketika Iran menghadapi tekanan baru dari AS. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan pemberlakuan sanksi yang disebutnya sebagai yang “terberat dalam sejarah” terhadap Iran setelah proses negosiasi antara Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan.

Kebijakan tersebut tidak hanya menyasar Iran, tetapi juga negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Teheran. Trump memperingatkan negara yang tetap bekerja sama dengan Iran akan menghadapi konsekuensi keras.

Dalam pidatonya, Pezeshkian juga membawa isu keamanan kawasan. Ia mengingatkan negara-negara Muslim agar tidak menjadikan wilayah atau kepentingan satu negara Muslim sebagai instrumen untuk menghadapi negara Muslim lainnya.

“Tidak ada negara Muslim yang boleh mengupayakan keamanannya dengan mengorbankan keamanan negara tetanganya,” kata Pezeshkian, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (27/8/2026).

“Wilayah negara Muslim mana pun tidak boleh digunakan untuk melawan negara Muslim lainnya,” tukasnya.

Pezeshkian menyatakan Iran saat ini berada dalam posisi mempertahankan diri dari pihak yang disebutnya sebagai agresor. Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan kerja sama ekonomi dan solidaritas antarnegara Muslim sebagai bagian dari pesan Iran di tengah meningkatnya tekanan terhadap Teheran.

Dorongan memperbesar perdagangan internal OKI kini menjadi salah satu isu yang disoroti Iran. Jika hubungan ekonomi antaranggota dapat ditingkatkan, negara-negara Muslim dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mengurangi ketergantungan pada pasar di luar kawasan dan menghadapi tekanan ekonomi secara lebih bersama. []

Redaksi1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com