WASHINGTON – Dunia media AS diguncang kabar mengejutkan dari The Washington Post, salah satu surat kabar legendaris Amerika, yang mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran pada Rabu (04/02/2026) waktu setempat. Ratusan jurnalis yang telah lama mengabdi bagi media bersejarah ini harus rela kehilangan pekerjaannya.
Dalam rilis resmi yang dikutip AFP, Kamis (05/02/2026), The Washington Post menyebut restrukturisasi yang tengah dilakukan sebagai langkah “sakit tapi perlu” demi menjaga kelangsungan surat kabar yang pernah menjadi sorotan dunia saat pemberitaannya membantu menggulingkan Presiden Richard Nixon dalam skandal Watergate.
Matt Murray, Pemimpin Redaksi The Washington Post, menegaskan bahwa ruang redaksi akan mengalami pemangkasan “signifikan.” “Kami sedang menyesuaikan struktur agar lebih relevan dengan tantangan masa kini. Langkah ini penting untuk memastikan kelangsungan dan stabilitas media ke depan,” ujarnya.
Langkah ini datang di tengah tekanan yang terus menghantui media tradisional AS. Presiden Donald Trump secara rutin menuding media besar, termasuk The Washington Post, sebagai “fake news” dan menggugat mereka terkait liputan soal kepresidenannya.
Bezos, pemilik The Washington Post yang juga pendiri Amazon, telah beberapa kali dikaitkan dengan hubungan yang lebih hangat dengan Trump pada masa jabatan keduanya. Baru-baru ini, Amazon secara kontroversial membayar US$ 40 juta untuk produksi film dokumenter tentang Ibu Negara Melania Trump, beserta US$ 35 juta untuk biaya pemasaran film tersebut.
Dalam pernyataannya kepada karyawan, Murray menyoroti perubahan besar dalam ekosistem media. Dari konten yang dihasilkan individu dengan biaya rendah hingga tren konten berbasis AI, semua menjadi tantangan yang mendorong PHK dan pengaturan ulang perusahaan.
“Struktur kita masih berakar pada era ketika cetak lokal mendominasi. Sekalipun karya kita luar biasa, sering kali perspektif yang kita tulis hanya menjangkau segmen audiens tertentu,” kata Murray.
Jumlah pasti karyawan yang terdampak tidak diumumkan. Namun New York Times melaporkan sekitar 300 dari total 800 jurnalis The Washington Post diberhentikan. Sebagian besar yang terdampak adalah koresponden luar negeri, termasuk tim di Timur Tengah dan Ukraina.
Departemen olahraga, grafis, dan berita lokal juga mengalami pemangkasan tajam, sementara podcast harian “Post Reports” ditangguhkan. Murray menekankan fokus redaksi ke depan akan diarahkan pada politik, keamanan nasional, teknologi, investigasi, dan bisnis.
Merespons PHK, serikat pekerja The Washington Post menyerukan aksi solidaritas di luar kantor pusat Washington. “Pemangkasan ini bukanlah keniscayaan. Mengosongkan ruang redaksi akan berakibat serius terhadap kredibilitas, jangkauan, dan masa depan surat kabar ini,” kata mereka.
Marty Baron, mantan Pemimpin Redaksi yang memimpin hingga 2021, menilai hari ini sebagai “salah satu hari tergelap dalam sejarah salah satu organisasi berita terbesar di dunia.” []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan