HULU SUNGAI TENGAH — Polemik menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi sorotan setelah ditemukan paket makanan siswa yang berisi pisang mentah. Temuan tersebut memicu kritik dari anggota DPRD HST, Salpia Riduan, yang menilai pengelolaan menu perlu segera dievaluasi.
Salpia menegaskan bahwa program MBG merupakan kebijakan penting yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Namun menurutnya, pelaksanaan di lapangan harus benar-benar diperhatikan agar tidak menimbulkan persoalan baru.
Ia mengaku menerima sejumlah laporan dari masyarakat serta melihat langsung keluhan yang muncul terkait menu makanan yang dibagikan kepada siswa.
“Beberapa laporan yang saya terima cukup mengejutkan. Ada siswa yang mendapat buah yang masih mentah. Kalau seperti ini tentu perlu diperbaiki karena makanan yang diberikan harus benar-benar siap dikonsumsi,” ujarnya pada Minggu (15/03/2026).
Politisi Partai Gerindra itu menilai kejadian tersebut tidak boleh dianggap sepele. Selain menyangkut kualitas makanan, ia juga mengingatkan bahwa kondisi makanan yang belum layak konsumsi dapat berdampak pada kesehatan siswa.
Menurutnya, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari tersalurnya paket makanan kepada siswa, tetapi juga dari kualitas dan kelayakan menu yang diberikan.
“Program ini sebenarnya sangat baik dan memiliki tujuan besar untuk meningkatkan gizi anak-anak. Karena itu pelaksanaannya harus benar-benar serius dan tidak boleh dilakukan asal-asalan,” tegasnya.
Salpia juga meminta koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah agar memperketat pengawasan terhadap dapur penyedia MBG.
Ia menilai setiap SPPG harus memastikan seluruh menu yang dibagikan kepada siswa telah memenuhi standar gizi serta layak konsumsi, termasuk memastikan buah atau bahan makanan telah matang.
“Kami berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap menu yang disalurkan. Jangan sampai kejadian serupa terulang karena anak-anak berhak mendapatkan makanan yang sehat dan siap santap,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG HST, Sadilah, menyatakan pihaknya telah menindaklanjuti keluhan yang muncul dengan meningkatkan pengawasan terhadap menu makanan yang disiapkan.
Ia menjelaskan bahwa setiap SPPG kini diminta melakukan pemantauan lebih ketat terhadap menu harian sebelum dibagikan kepada siswa.
“Kami sudah melakukan langkah mitigasi dengan memantau menu yang disiapkan setiap hari. Jika ditemukan menu yang tidak sesuai standar, kami akan segera menindaklanjutinya,” ujar Sadilah.
Selain itu, pengelola SPPG juga diminta mempublikasikan menu MBG melalui media sosial resmi agar masyarakat dapat ikut melakukan pengawasan terhadap program tersebut.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi sekaligus memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa tetap terjaga. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan