PONTIANAK – Malam di Jalan Gajah Mada berubah menjadi panggung cahaya. Ribuan warga memadati ruas jalan utama itu saat 49 naga bercahaya meliuk-liuk di tengah kerumunan, memeriahkan perayaan Cap Go Meh 2577, Selasa (03/03/2026).
Parade Naga Bersinar tahun ini tampil lebih memukau. Lampu warna-warni membalut tubuh naga dengan panjang bervariasi, mulai sekitar 20 meter hingga mencapai 118 meter. Dentuman musik tabuh berpadu sorak penonton, menciptakan atmosfer yang nyaris tanpa jeda.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menilai perayaan tersebut bukan sekadar tontonan tahunan. Ia menyebut Cap Go Meh sebagai etalase keberagaman Kota Khatulistiwa yang hidup dalam toleransi, terlebih karena tahun ini beririsan dengan bulan suci Ramadan.
“Setiap parade digelar, jalan ini selalu penuh. Yang datang bukan hanya warga Tionghoa, tetapi seluruh elemen masyarakat. Ini bukti budaya bisa menyatukan,” ujarnya.
Menurutnya, Pontianak menunjukkan wajah ramah bagi siapa pun yang ingin berkarya dan merayakan tradisi. Ia memastikan seluruh atraksi telah diselaraskan dengan semangat saling menghormati.
“Kegiatan tetap berjalan dengan menjaga sensitivitas bulan Ramadan. Prinsipnya, semua diberi ruang tanpa mengganggu satu sama lain,” katanya.
Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, melihat antusiasme publik sebagai peluang besar bagi sektor pariwisata. Hampir lima puluh naga yang ambil bagian dinilainya sebagai potensi event unggulan yang bisa mendongkrak citra kota.
“Kalau dikemas lebih profesional, ini bisa menjadi magnet wisata yang berdampak langsung pada pendapatan daerah,” ucapnya.
Ia menambahkan, lonjakan pengunjung turut menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari hotel, restoran, hingga pelaku UMKM yang kebanjiran pembeli.
Ketua Panitia Festival Cap Go Meh Pontianak, Hendri Pangestu Lim, menyebut seluruh naga yang tampil merupakan hasil kreativitas komunitas dari berbagai kelenteng dan perkumpulan di Pontianak.
“Tahun ini ada 49 kelompok. Naga terpanjang 118 meter, yang terpendek sekitar 20 meter. Semua dikerjakan dengan penuh dedikasi,” jelasnya.
Hendri memastikan persiapan dilakukan jauh hari, termasuk koordinasi dengan pemerintah dan aparat keamanan agar acara berlangsung tertib.
“Syukur alhamdulillah berjalan lancar. Dukungan masyarakat luar biasa dan menjadi energi bagi kami untuk menghadirkan yang lebih baik lagi,” tuturnya.
Di tengah lautan manusia, Rina (34), warga Pontianak Selatan, mengaku datang lebih awal bersama keluarganya demi mendapatkan posisi strategis.
“Anak-anak selalu menunggu momen ini. Naga yang menyala itu jadi favorit mereka. Walau Ramadan, suasananya tetap kondusif,” katanya.
Ardi (27), warga Sungai Raya Dalam, juga menilai Cap Go Meh Pontianak punya daya tarik khas.
“Di sini terasa sekali kebersamaannya. Semua larut dalam satu perayaan tanpa sekat,” ujarnya.
Parade Naga Bersinar kembali menegaskan bahwa Pontianak tak sekadar merayakan tradisi, tetapi juga merawat harmoni di tengah keberagaman yang telah mengakar selama puluhan tahun. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan