PUPR Kutai Barat Tunjukkan Solusi Sanitasi Berkelanjutan

KUTAI BARAT – Dalam upaya mengatasi praktik buang air besar sembarangan dan menjaga kebersihan lingkungan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kutai Barat terus mengembangkan layanan sedot septic tank sebagai bagian dari pengelolaan sanitasi berkelanjutan sekaligus sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Kutai Barat, Hironimus Stepen, menjelaskan bahwa keberhasilan program sanitasi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan septic tank, tetapi juga oleh perawatan dan pengelolaan limbah yang teratur. “Septic tank idealnya disedot setiap tiga tahun sekali. Kami sudah menyiapkan layanan resmi yang sekaligus mendukung PAD daerah,” ujar Hironimus, Sabtu (3/1/2026).

Saat ini, PUPR Kutai Barat telah mengoperasikan dua unit armada mobil sedot tinja yang siap melayani masyarakat di berbagai kecamatan dengan akses darat yang memadai. Layanan ini sepenuhnya terintegrasi dengan sistem pembayaran resmi daerah. Warga diwajibkan melakukan pendaftaran dan pembayaran melalui kas daerah atau bank yang ditunjuk. “Setelah bukti pembayaran ada, baru armada kami turun,” tambahnya.

Hironimus mengakui bahwa di awal pengoperasian, respons masyarakat masih rendah. Namun, setelah dilakukan promosi dan uji coba gratis untuk sekitar 50 rumah, kesadaran warga mulai meningkat. “Dulu armadanya terbatas, baru sekitar 2021 layanan ini serius berjalan. Kita promosikan dulu agar masyarakat tahu manfaatnya,” jelasnya.

Hingga kini, total PAD dari layanan sedot septic tank telah mencapai sekitar Rp700 juta per tahun, meski target maksimal belum tercapai. Layanan difokuskan pada wilayah yang dapat dijangkau darat, sementara daerah yang memerlukan penyeberangan sungai masih menjadi tantangan.

Tak hanya melayani rumah tangga, Hironimus menekankan pentingnya pengaturan sanitasi pada moda transportasi air, seperti kapal penumpang. “Idealnya setiap kapal punya septic tank sendiri yang bisa disedot ketika kapal sampai di darat. Ini mencegah limbah langsung dibuang ke sungai,” ujarnya.

Seluruh limbah yang disedot diolah melalui Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di TPA Belaw, sehingga aman bagi lingkungan. Sistem ini menegaskan bahwa pengelolaan sanitasi di Kutai Barat tidak sekadar soal pembangunan infrastruktur, tapi juga tata kelola, keberlanjutan, dan perlindungan lingkungan.

Dengan langkah ini, PUPR Kutai Barat berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya sanitasi, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik bisa menjadi solusi lingkungan sekaligus sumber PAD bagi daerah. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com