MOSKOW – Presiden Rusia, Vladimir Putin, melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, di tengah memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Percakapan kedua pemimpin negara tersebut menyoroti upaya meredakan ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.
Dalam komunikasi yang berlangsung pada Selasa (11/03/2026), Putin disebut menekankan pentingnya menahan eskalasi konflik yang terus berkembang sejak akhir Februari lalu. Pemerintah Rusia menilai situasi yang terjadi berpotensi memperluas krisis keamanan regional apabila tidak segera dikendalikan.
Melalui pernyataan resmi Kremlin, Rusia kembali menegaskan sikapnya yang mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan dialog politik.
“Presiden Rusia kembali menyampaikan pandangan prinsipil bahwa konflik ini harus segera diturunkan eskalasinya dan diselesaikan melalui mekanisme politik serta perundingan,” demikian pernyataan Kremlin yang dikutip AFP, Selasa (11/03/2026).
Pihak Kremlin juga menyebut bahwa percakapan antara Putin dan Pezeshkian berlangsung dalam suasana yang konstruktif. Dalam pembicaraan tersebut, Iran juga menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Rusia selama konflik berlangsung.
Menurut Kremlin, Presiden Iran menyampaikan terima kasih kepada Moskow atas berbagai bentuk bantuan yang telah dikirimkan, termasuk bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Iran yang terdampak konflik.
Konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sendiri pecah pada 28 Februari lalu. Serangan awal dilancarkan oleh pasukan gabungan AS dan Israel yang menargetkan sejumlah lokasi strategis di Teheran.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan meluncurkan serangan terhadap beberapa pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
Perang yang berlangsung hampir dua pekan itu juga membawa dampak besar terhadap situasi politik Iran. Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia akibat serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada tahap awal konflik.
Sejak saat itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Iran, Amerika Serikat, dan Israel dilaporkan masih saling melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di wilayah masing-masing.
Hingga kini belum ada tanda-tanda konflik tersebut akan segera berakhir. Sejumlah negara besar, termasuk Rusia, mulai mendorong upaya diplomasi guna mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Panggilan telepon antara Putin dan Pezeshkian dipandang sebagai salah satu upaya diplomatik terbaru untuk meredakan situasi. Rusia menilai jalur dialog politik tetap menjadi opsi paling realistis untuk menghentikan siklus serangan yang terus berlangsung.
Situasi ini sekaligus menunjukkan meningkatnya peran diplomasi global dalam merespons konflik Timur Tengah yang kian kompleks, terutama setelah keterlibatan beberapa kekuatan besar dunia dalam krisis tersebut. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan