Putra Sang Penguasa Tumbang dalam Serangan Terencana

ZINTAN — Tewasnya Saif Al-Islam Khadafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Khadafi, kembali mengguncang stabilitas keamanan di wilayah barat negara itu. Insiden berdarah tersebut terjadi pada Senin 2 Februari 2026 dan hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar terkait pelaku maupun motif di balik serangan.

Informasi mengenai kematian Saif mulai beredar luas setelah dikonfirmasi oleh orang-orang terdekatnya di lingkaran politik internal. Salah satu anggota tim politiknya menyebut peristiwa itu sebagai serangan terencana yang menargetkan korban secara spesifik.

“Ini bukan serangan acak. Saif jelas menjadi target utama dan para pelaku datang dengan persiapan matang,” ujar sumber tersebut kepada media lokal Libya, Selasa (03/02/2026).

Keterangan senada disampaikan pengacara Saif yang berbasis di Prancis, Marcel Ceccaldi. Ia menilai pembunuhan kliennya dilakukan dengan pola operasi yang rapi dan singkat.

“Yang kami lihat adalah sebuah aksi komando. Mereka bergerak cepat, masuk ke lokasi, lalu menghabisi Saif tanpa memberi ruang untuk penyelamatan,” kata Ceccaldi dalam pernyataan tertulisnya.

Seorang jurnalis Al Jazeera Arabic yang melaporkan langsung dari Libya, Ahmed Khalifa, menyebut Saif meninggal dunia akibat luka tembak yang mengenai bagian vital tubuhnya.

“Berdasarkan informasi lapangan, Saif ditembak dari jarak dekat. Serangan berlangsung singkat, namun mematikan,” ungkap Khalifa dalam laporannya.

Namun, versi berbeda muncul dari pihak keluarga. Saudara perempuan Saif mengklaim bahwa peristiwa tersebut tidak terjadi di dalam rumah di Zintan, melainkan di wilayah dekat perbatasan Libya dengan Aljazair.

“Saif tidak meninggal di rumahnya seperti yang diberitakan. Ia tewas saat berada di kawasan dekat perbatasan,” ujarnya kepada salah satu stasiun televisi nasional Libya.

Media setempat juga menyoroti fakta bahwa kamera pengawas di sekitar lokasi dilaporkan tidak berfungsi sebelum kejadian berlangsung. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya keterlibatan pihak tertentu yang memahami sistem keamanan setempat.

Menanggapi isu keterlibatan kelompok bersenjata, Milisi Brigade Tempur 444 secara tegas membantah tudingan tersebut.

“Kami tidak terlibat dalam pembunuhan Saif Al-Islam Khadafi. Nama kami diseret tanpa dasar yang jelas,” tegas juru bicara brigade tersebut.

Kantor Kejaksaan Agung Libya menyatakan telah membuka penyelidikan resmi atas kasus ini. Seorang pejabat kejaksaan mengatakan proses pengumpulan bukti tengah berlangsung.

“Kami sedang mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak. Semua kemungkinan akan ditelusuri,” kata pejabat tersebut.

Saif Al-Islam Khadafi dikenal sebagai figur sentral di balik layar kekuasaan ayahnya sebelum rezim Khadafi tumbang pada 2011. Meski tak pernah menjabat secara resmi, pengaruh politiknya membuat ia disegani sekaligus ditakuti.

Ia juga tercatat menghadapi berbagai tuduhan serius, termasuk pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Namanya masuk dalam daftar buronan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) dan daftar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kematian Saif kini dipandang sebagai peristiwa krusial yang berpotensi memicu eskalasi konflik baru di Libya, negara yang hingga kini masih belum sepenuhnya pulih dari perang saudara berkepanjangan. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com