TEL AVIV — Situasi di berbagai kota besar Israel kembali mencekam setelah sirene peringatan serangan udara berbunyi hampir bersamaan di sejumlah wilayah. Ledakan juga terdengar dari arah Yerusalem ketika sistem pertahanan udara Israel berupaya menahan serangan rudal yang diduga diluncurkan dari Iran dan wilayah Lebanon.
Kondisi darurat dilaporkan terjadi di beberapa kota, termasuk Tel Aviv, Yerusalem, Haifa, serta sejumlah wilayah di Israel bagian tengah dan utara. Warga diminta segera mencari perlindungan ketika sirene peringatan terus berbunyi pada Kamis (05/03/2026).
Militer Israel menyatakan bahwa mereka mendeteksi adanya peluncuran rudal yang mengarah ke wilayah negara tersebut.
Dalam pernyataan resminya, pihak militer menjelaskan bahwa sistem pertahanan udara langsung diaktifkan untuk menghadang proyektil yang masuk.
“Militer mendeteksi adanya rudal yang ditembakkan dari Iran menuju wilayah Israel. Sistem pertahanan udara segera dioperasikan untuk menghalau ancaman tersebut,” demikian keterangan militer Israel yang disampaikan beberapa kali sepanjang siang hingga sore hari.
Tak lama setelah laporan serangan pertama, militer juga mengungkap adanya proyektil lain yang ditembakkan dari wilayah Lebanon.
Sirene kembali berbunyi di sejumlah kota di Israel tengah ketika sistem pertahanan udara melakukan intersepsi terhadap rudal tersebut.
“Beberapa proyektil yang diluncurkan dari Lebanon ke arah Israel berhasil dicegat oleh sistem pertahanan kami,” kata pihak militer dalam keterangan lanjutan.
Serangan terbaru ini terjadi ketika konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah memasuki hari kelima. Ketegangan regional meningkat sejak dimulainya operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran beberapa hari sebelumnya.
Lebanon ikut terseret ke dalam konflik setelah kelompok Hizbullah yang didukung Teheran meluncurkan serangan ke wilayah Israel. Serangan itu disebut sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian memicu gelombang serangan udara Israel secara berkelanjutan.
Di tengah situasi tersebut, layanan darurat Israel, Magen David Adom (MDA), melaporkan adanya korban luka akibat serangan rudal.
Petugas medis menyebutkan dua orang harus dilarikan ke rumah sakit di wilayah Israel tengah.
“Kami mengevakuasi dua korban dengan luka ringan. Salah satunya pria berusia sekitar 30 tahun yang mengalami luka akibat pecahan proyektil, sementara korban lainnya terluka akibat dampak ledakan,” ujar perwakilan layanan darurat MDA.
Sementara itu, kepolisian Israel menyatakan bahwa petugas telah dikerahkan ke sejumlah lokasi di sekitar Yerusalem setelah beberapa serpihan proyektil yang berhasil dicegat jatuh di wilayah tersebut.
“Personel kami dikirim ke lima titik di wilayah Yerusalem tempat puing-puing proyektil jatuh. Kerusakan yang terjadi dilaporkan bersifat terbatas,” kata pihak kepolisian.
Militer Israel juga menyampaikan bahwa sebagian besar proyektil yang ditembakkan dari wilayah Lebanon berhasil dihentikan sebelum mencapai target.
Data layanan darurat menunjukkan bahwa sejak pecahnya konflik di kawasan tersebut, ratusan warga Israel telah menerima perawatan medis.
MDA mencatat sedikitnya 414 orang menjadi korban sejak perang dimulai, dengan rincian 10 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, enam orang luka sedang, dan ratusan lainnya mengalami luka ringan.
Situasi keamanan di sejumlah kota Israel hingga kini masih berada dalam status siaga tinggi, sementara sistem pertahanan udara terus diaktifkan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan